Tampilkan postingan dengan label marvin harris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marvin harris. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Agustus 2026

Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir - Marvin Harris

Buku terbitan Marjin Kiri setebal 261 halaman ini, mungkin jadi salah satu buku bagus yang aku baca. Selain memang sudah lama aku incar, isinya pun sesuai ekspetasiku.

Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir aslinya ditulis oleh antrpolog amrik bernama Marvin Harris. Hasil terjemahan versi Marjin Kiri ini dilakukan oleh Ninus D. Andarnyswah.



Ini mungkin kritik pertama yang aku bisa tulis dari buku ini; terjemahnnya gak merata bagusnya. Kurang luwes, padahal di bab mengenai Tukang Sihir itu cukup oke. Tapi di bab lain, seperti Perang misalnya, penulisannya muter-muter sehinga aku harus membaca sebuah paragranya beberapa kali sampai mengerti. Mau gak mau jadi membuatku suudzon kalau si penerjemah langsung saja menulis tanpa mengerti isinya, ya semoga aku salah.

Anyway, buku ini tetap jadi pelipur lara dahaga dari beberapa buku jelek yang ku baca tahun 2026 ini. Cukup bisa membayar kekecewaannya pula.

Bab berjudul Pencinta Babi dan Pembenci Babi bagus sekali. Hal penting yang ku ambil dari penjelasan di sana: mengapa babi diharamkan bagi umat Muslim dan Yahudi adalah karena secara ekologis dan ekonomis, memelihara babi di dataran Timur Tengah Arab cuma bikin rugi. Babi gak bisa berkeringat dan kalo tinggal di daerah bertemperatur di atas 28 derajat celcius, dia pasti mendinginkan badannya dengan kotorannya atau lumpur sebab babi gak punya pori-pori keringat. Babi juga bakal mati kalo tinggal di atas suhu 37 derajat celcius, beda banget kayak sapi dan unta yang lebih kuat karena yaa mereka punya pori-pori keringat.

Sapi dan unta sebenarnya juga akan mendinginkan tubuh dengan kotorannya kalau suhu sektarnya terlalu panas, tapi ini jarang terjadi karena ketahannya lebih tinggi daripada babi. Udah gitu, sapi dan unta juga bisa dimanfaatkan susunya, tenaganya, dan bisa dikasih makan rumput doang alias lebih gampil. Sementara babi gak menghasilkan susu, gak bisa nomaden, gak bisa dimanfaatkan sebagai tenaga logistik dan makanannya sama kayak manusia.

Singkatnya, mengembangbiakan babi di dataran Timur Tengah adalah pekerjaan maladaptif, hanya bikin rugi, jadilah ini diharamkan.

Tapi memang, daging babi ini konon katanya enak banget, dan masuk sebagai bentuk kemewahan (luxurius). Tapi karena akan merusak pasar dan ekologis, jadi sekalian aja untuk menjaga keseimbangan tersebut, babi diharamkan oleh Muslim dan Yahudi agar dijauhi sama sekali. Babi itu kodratnya ada di kawasan hutan teduh.

Bab lain yang bikin aku gak bisa tidur adalah soal Tukang Sihir yang ada di Bab Sapu Terbang dan Pertemuan Sabbat.  Siapa sangka kalau propaganda Tukang Sihir adalah propaganda politik dari pemerintah dan gereja??

Di Abad 15-17 Eropa tuh dilanda musibah banyak, mulai dari wabah penyakit, hasil pertanian yang gagal terus karena kemarau, kemiskinan merajalela, tapi pajak mencekik. Gak beda jauh sama hari ini jujur. Kondisi hopeless ini banyak ngelahirin berbagai macam jenis gerakan di masyarakat, salah satunya gerakan mesianisme di kalangan grass root. Selain kelompok mesianisme, banyak juga lah kelompok yang suka nyimeng dan mabok, ya bentuk eskapisme wong kalahan lah.

Tapi saat itu, pihak kerajaan paling khawatir sama gerakan mesianisme, karena gak sedikit dari mereka mempromosikan revolusi dan gerakan menentang kerajaan. Gerakan ini tuh juga ada yang lahir dari kumpulan petani jagung atau pembuat roti. Mereka dianggap bisa jadi ratu adil untuk bikin keadaan lebih baik, mereka berusaha ngelawan negara tapi juga pingin dominasi sesama rakyat juga.

Untuk meredam makin masifnya gerakan itu, pihak kerajaan dan gereja katolik kerjasama membuat musuh fiktif alaias kambing hitam, yaitu apa? Yak, tukang sihir.

Mereka bikin musuh khayalan bersama yang menyebabkan panen gagal, kemiskinan, wabah penyakit yang gak henti, pengangguran massal, bahkan sampe pajak yang tinggi. Tukang sihir ini pun dibuat-buat karakternya sama para elit, tukang sihir digambarkan mengancam agama dan negara karena bersekutu dengan iblis. Ciri-cirinya, mereka suka ngumpul di malam sabbat dan suka naik sapu terbang.

Para elit membuat framing kao tukang sihir adalah musuh bersama yang mengancam kerajaan dan gereja. Yak, inilah ancaman non-militer versi Eropa dulu.

Akhirnya masyarakat berganti perhatiannya untuk memburu Tukang Sihir, bahkan ngebentuk organisasi macem pemuda pancasila bernama Inkuisisi untuk memburu tukang sihir di sekitarnya. Gerakan ini makin ancur karena selain didukung dan dikasih hadiah sama kerajaa, pihak gereja ngasih izin buat kasih siksaan dan hukuman paling sadis buat si tukang sihir.  siapapun bisa aja dituduh, walau gak ada buktinya sama sekali. Ya iyalah, orang aslinya emang tukang sihir itu gaada!

Konflik horizontal ini memakan korban mencapai 500.000 jiwa di saentero Eropa, sekitar 80% lebih korbannya perempuan, terutama perempuan paruh baya yang profesinya suster kelas bawah dan ibu-ibu pemilik tanah kayak ibunya Johannes Kepler, si fisikawan terkenal itu.

Di novel berjudul Everyone Knows Your Mother is a Witch karya Rivka Galchen, yang jadi semacam novel fiksi slash sejarah nyata memaparkan ibunya Kepler dituduh masyarakat sebagai penyihir karena bisa nenangin demam tetangga dan salah satu kambingnya dibilang bisa nyala pas malam hari (sumpah lucu banget).

Tuduhan warga koplak banget gak ada yang bener tapi dianggap serius sama hakim. Alhasil, ibunya Kepler terancam hukuman mati. Tahu ibunya dizolimi, Johannes Kepler memohon kepada kerajaan untuk ampuni ibunya dan minta perlindungan gereja juga, dia pakai previlege-nya sebagai astronom andalan Jerman saat itu. Dia bilang, eh gue warga berprestasi nih udah harumin negara, plis tolongin nyokap gue, dia gak salah fak lo semua. Ya, kira-kira begitu, alhasil Ibunya selamat.

Tapi nasib yang beruntung itu, gak bisa dialami oleh kebanyakan korban yang dituduh penyihir. Kalau di novel kocak banget ya, tapi di buku Marvin Harris ini jujur aja bikin nangis dan marah.

Yang terjadi, aslinya sungguh sangat gelap dan meyedihkan karena banyak banget orang gak bersalah meninggal tragis dan sia-sia karena dituduh penyihir sama orang tolol. Hukumannya bisa dibakar hidup-hidup, dihancurin jempolnya, sampe digantung. Bahkan saat dieksekusi, pihak keluarga wajib kasih hakimnya cemilan saat hukuman berlangsung, bahkan kebutuhan hukumannya ditanggung keluarga, dan harta para korban yang kebanyakan wanita ini bakal disita negara. Aargh bikin marah!

Semua sejarawan yang neliti ini pasti stress dan PTSD karena gak masuk akalnya hukuman yang dijatuhi jaman dulu. Tapi selanjutnya penelitian mengungkapkan kalau sebenarnya memang ada kelompok orang yang ngumpul malam-malam, tapi namanya bukan sabbath.

Mereka cuma orang-orang ngumpul ngegele alias nyimeng bersama aja, gak ada gerakan subversif yang mengancam dari kegiatan mereka. Mereka ngolesin diri pakai balsem racikan suku indian, yang bisa bikin halusinasi terbang di udara bahkan mimpi joget dan had sex sama orang dambaannya, balsem ini pun bisa bikin ketiduran sampe tiga hari bahkan.

Tapi, orang-orang ngegele ini gak pernah ditangkap. Malah, orang gak bersalah yang kena, yang kebanyakan perempuan paruh baya, sekalpun ada laki-laki yang kena juga gak pernah sampai dihukum mati, apalagi kalau dia berasal dari kalangan atas.

Jadi yah begitulah. Sangat menyedihkan tapi juga familiar karena saat ini presiden lu dan temen-temennya bikin hal serupa tuhh. Bisa jadi sasarannya minoritas LGBTQ, terus Tionghoa miskin dan Orang Timur miskin. S

Tiap ada krisis ekonomi hebat, pasti ada aja pihak yang dijadiin kambing hitam, kalau dulu di Eropa sana ada penyihir, di Endonesya sebelumnya  berhasil menjalankan praktik scapegoating fenomenal melalui G30S PKI. Terus sekarang ke LGBTQ, setelah dulu ada Tionghoa dan dukun Banyuwangi pas krisis 1998.

Sejarah emang gak pernah berubah bagi orang yang gak pernah belajar, selalu pakai praktek divide and conquer (pecah dan hancurkan) rakyat pake narasi dan moralitas agama yang diterjemahkan secara dangkal.