Tampilkan postingan dengan label Russian Literature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Russian Literature. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Membahas Sastrawan Rusia Favorit Aqu dan Bagaimana Mereka Mati

Dorongan untuk menulis tema ini datang dari gejolak hormonal haid. Saya membaca kembali Sinel (Mantel) karya Nikolai Gogol dan menangisi Akaki Akakievich seharian disaksikan oleh dua ikan mas koki saya. Dari sana, jadi teringat penulis-penulis Rusia favorit lainnya. Walau selera saya sungguh sangat basic, tapi rasanya menghaturkan secara khusus kekaguman kepada penulis-penulis tersebut, perlu dilakukan. 

Sebab bagaimana pun juga, antusiasme terhadap karya-karya mereka inilah yang buat saya terus bertahan belajar di Sastra Rusia, hohoho. Dari mereka pula, saya merasa tak perlu khawatir untuk stay sad and less fab alias menjadi suram dan gelap (ngok). Karena dalam beberapa titik, menghadapi hal-hal 'gelap' itu adalah salah satu cara untuk tetap hidup dan terus menghargainya (ngek). 

Selain sosoknya, saya juga mau membahas bagaimana mereka menghadapi kematiannya. Mengapa? karena seperti kisah-kisahnya, para sastrawan klasik ini juga berakhir dengan cara yang 'tragis', grotesque, sureal, dan meninggalkan kesan sangat dalam. Oke, semua ini adalah murni pengalaman membaca saya yang memang tak terlalu luas. Jadi silakan dinikmati sebagai bagian dari pengalaman saya sahaja, hehehe. 

1. Nikolai Gogol 


Nikolai Gogol, potretnya selalu jaim dan polos, sumber: rinatim.com
Awal masuk jurusan Rusia, nama Tolstoy lebih sering disebut dibandingkan orang ini. Padahal, mereka berdua sama-sama 'mistis', kalau nggak mau disebut aneh. Bedanya, Gogol punya selera humor lebih hacep daripada Tolstoy. 

Mereka (Tolstoy dan Gogol) bisa menangkap eksploitasi dan ketimpangan yang terjadi terhadap petani dan orang-orang marjinal dengan sangat baik. Tetapi arah 'peraduan' mereka berbeda, Tolstoy lebih mengajak kita untuk pasrah dan menyerahkan diri pada Tuhan, sementara Gogol menertawakannya. Ya, ini tentu saja nggak bisa diaplikasikan di setiap karya keduanya, setidaknya dalam kasus 'Mantel' karya Gogol dengan 'Tuhan Tahu Tapi Menunggu' karya Tolstoy, itu yang bisa saya tangkap. 

Gogol mau tak mau membuat kita (atau setidaknya saya) marah dengan pemerintah, sekaligus membenci dan mengasihani tokoh utama. Dari Gogol, saya juga banyak belajar bagaimana mendeskripsikan sosok dengan detail dan komikal, tapi tetap substansial. Gogol juga memiliki teknik menulis yang padat, tapi alur bercerita yang mengalir asyik, sehingga pembaca bisa bertahan tanpa harus kehabisan napas, ini saya temui dalam 'Jiwa-Jiwa Mati' dan 'Vy'. Dari dia pula, saya berpikir imajinasi liar perlu sesekali dikembangkan lebih jauh, untuk memunculkan beragam alternatif hidup, walau akhirnya tetap kalah diganyang kesialan hidup. Well, at least you tried, sweetie.




Menemui masa akhir hidupnya, Gogol ternyata juga menghadapi sebuah kebuntuan. Ia tiba-tiba paranoid saat menyaksikan kematian istri sahabatnya, Catherine, karena tipus. Serangan paranoia itu membuat Gogol banyak memikirkan kematian hingga depresi dan menyandarkan diri pada ajaran agama. Supaya bisa hidup lebih lama dan tak berakhir mati muda seperti Catherine, dia mendatangi pendeta ultra-konservatif Orthodox bernama Bapa Matvei Konstantinovsky. 

Sialnya si Bapa bilang kalau pekerjaan Gogol sebagai penulis itu dianggap sebagai pekerjaan yang dibenci Tuhan. Tanpa pikir panjang, Gogol langsung saja membakar skrip-skrip naskah 'Jiwa Jiwa Mati' dan berbagai manuskrip lainnya dan melabelinya sebagai kegagalan. Sikap destruktif tersebut berlanjut dengan niatnya untuk berpuasa menyambut Maslenitsa. 

Maslenitsa adalah perayaan musim semi Rusia yang sangat heboh dan penuh hura-hura. Keputusan Gogol untuk berpuasa ini sebetulnya sangat menyakiti diri, sebab dirinya sangat terobsesi dengan makanan. Benar saja, beberapa hari puasa, ditambah keadaan mental yang amburadul, dia jatuh sakit. Dokternya sendiri merasa menempelkan beberapa lintah di hidungnya dan 'merebus' Gogol adalah teknik terbaik untuk membuat sastrawan terkenal itu sembuh dari kekurangan gizi dan depresi klinis. Tentu saja cara ajaib itu gagal. 

Sebelum meninggal, Gogol pernah menyampaikan pesan kepada sahabatnya jika nanti meninggal ingin disediakan peti mati dengan lubang udara dan sambungan tali dengan bel dari dalam kubur. Ya, cara ini dilakukannya sebab beliau parno kalau-kalau orang mengira dia mati padahal belum, jika hal itu terjadi dia ingin memberitahu orang dengan memanggilnya lewat bel yang tersambung ke peti matinya supaya bisa ditolong. 

Tapi Gogol sudah damai dikebumikan di area pemakaman Danilov sebulan setelah puasa berdarah itu. Lelaki Aries berdarah Ukraina tersebut meninggal 21 Februari 1852 di usia 42. 

2. Anton Chekov 

Anton Chekov, yang seakan bilang "buruan, nyet!" kepada fotografer, sumber: lettersofnote.com
Mengagumi Chekov awalnya karena alasan receh. Ya, benar karena sama-sama Aquarius dan lahir hanya berselang satu hari saja dengan saya tertarik dengan RSJ. Jika karya Gogol bisa membuat kita tertawa dan bersalah kemudian, karya Chekov sangat apik menggambarkan tokoh dan sifatnya seperti seorang antropolog, tapi dengan ironisme tingkat tinggi. Kirin Narayan, seorang folkoris cum profesor bahkan terinspirasi membuat teknik-teknik menulis dari karya-karya Chekov. 

Chekov meninggal karena TBC. Lelaki tampan idola banyak kembang desa ini pun mengalami proses meninggal yang lebih 'normal' ketimbang Gogol. Bahkan bisa dibilang mendekati elegan, walau akhirnya sama-sama tragis juga. 

Saat sekarat, Chekov minta istrinya, Olga Kniper, membawakan sampanye. Dia bilang kalau sudah lama banget nggak minum sampanye seenak itu. Sebagai fyi, jenis sampanye yang diminum adalah jenis Moet. Adegan ini hampir mengingatkan kepada Pramoedya Ananta Toer yang minta rokok di saat sekarat pula (mereka sama-sama Aquarius) (Ok, i should stop). 

Sebelum minta sampanye, Chekov berulang kali berkata lirih, "ich strabe" yang artinya, "saya sekarat". Istri dan dua muridnya yang berada di ruangan panik dan berkali-kali menghubung dokter supaya membawa tabung oksigen. Melihat kerempongan itu, Chekov cuma bilang (kira-kira), "buat apa sih? toh bentar lagi mati juga. Ambil sampanye saja!" Jadilah Chekov menghembuskan nafas terakhir selepas minum segelas penuh.



Keeleganan itu berubah menjadi sebuah tragicomic(?) saat jenazah Chekov dikirim dari Jerman ke Rusia. Demi menjaga dan melindungi jenazah tetap apik dan tak rusak dari hawa musim panas (perjalanan memakan waktu berhari-hari), peti matinya dikirim menggunakan 'kulkas' kereta pengangkut kerang tiram. Cara yang dipandang brilian oleh sebagian pihak ini, mengundang amarah di pihak lain (Maxim Gorky, dkk) karena dianggap tak menghormati almarhum. 

Prosesi penguburannya di Moskow ramai diikuti ratusan pelayat. Menariknya, ratusan pelayat ini barangkali juga pelayat yang mau menyambut  jenazah Jenderal Keller, petinggi militer yang dibunuh di Manchuria dalam rangka Russo War. Jenazah Keller sampai berbarengan dengan Chekov dengan kereta pendingin seafood. Prosesi pemakaman militer yang disiapkan buat Jenderal Keller, mau tak mau dirasakan jenazah Chekov juga.

Duka berlapis-lapis yang membingungkan dan buat marah pelayat ini melahirkan sebentuk perasaan ironis dan sureal bagi sahabat-sahabatnya. Banin dan Gorky bahkan bilang, kalau situasi komikal dan tragis yang suka digambarkan Chekov dalam drama, novel, dan cerpennya, seakan hidup dialami penulisnya sendiri saat kematiannya. 

Chekov dimakamkan di sebelah makam ayahnya di pemakaman Novodevichy pada 15 Juli 1904 di usia 44 tahun.

3. Fyodor Dostoyevsky 

Fyodor Dostoyevsky, #FunFact, satu warteg di Kutek, Depok memajang poster beliau. sumber: tonyreinke.com
Untuk sosok yang ini mah, rasanya saya seperti bertemu kawan karib, hahaha (*sok iyeh). Kalau Tolstoy adalah sosok yang bikin saya tertarik literatur Rusia, Dostoyevsky yang buat saya jatuh cinta. Walau di permukaan beliau suka bikin penggambaran tokoh utama dengan karakter utama laki-laki yang hampir sama (Halo juga, Murakami), yakni miskin, punya gangguan kesehatan mental, tipikal anti-hero, pasif agresif, anti sosial, hopelessly romantic(?), suka ngeluh, dan di-PHP-in. Racauan pemikiran tiap tokoh layak dipertimbangkan dalam-dalam. Terutama saat dangdut mode melanda. 

Yang buat saya jatuh cinta memang pesimisme, 'ekstrimisme', alur pemikiran eksistensialisnya, dan sarkasnya beliau. Itu adalah kejujuran dan sebentuk kesadaran terhadap diri dan lingkungan yang menarik dicontoh menurut saya. Saya ingat, saking 'negatif'-nya "Catatan dari Bawah Tanah", pernah bikin salah satu teman sekelas nggak mampu menyelesaikan novel tersebut, "terlalu suram," katanya. Saya sendiri sangat bisa mengerti karena bacaan literatur sehari-harinya adalah Nicholas Sparks. 

Jangankan teman sekelas saya, penulis DH Lawrence saja pernah bilang terang-terangan kalau dia benci Dostoyevsky. Baginya, Dostoyevsky seperti tikus yang lama berkubang dalam kebencian. Hm ya, dia berkata demikian saat selesai membaca 'The Idiot". Turgenev juga pernah bilang nggak terlalu setuju dengan pendapat yang menyatakan karya Dostoyevsky adalah kanon literatur Rusia.



Dostoyevsky juga adalah sastrawan yang mengalami lonjakan karir paling berliku. Saat pertama kali keluar dengan karya "Poor Folk", dia mendapat apresiasi meriah dan pujian setinggi langit. Belinsky bahkan berkata dia adalah penulis terbaik di zamannya. Tapi 15 hari kemudian reputasinya anjlok. 

Karya Dostoyevsky selanjutnya berjudul "The Double", dinilai sangat kebanting dengan karya perdananya. Dari pujian dan apresiasi, Dostoyevsky menerima kritikan tajam dan olok-olok kasar dari berbagai pihak. Keadaan ini membuat beliau sangat down dan nggak percaya diri. Dia mulai terserang gangguan kesehatan mental dan fisik, juga krisis finansial. Beliau butuh waktu 15 tahun untuk bangkit dari keterpurukan. 

Hal yang juga paling sering dibahas dari Dostoyevsky adalah pengalamannya dipermainkan oleh petinggi Kerajaan Rusia. Ia ditangkap karena aktivitas subversif, yakni mendukung gerakan sosialisme dan propaganda anti pemerintah. Detik-detik menghadapi eksekusi di Lapangan Semyanov, St Petersburgh dengan mata tertutup menunggu tembakan, seseorang datang membawa surat dan menyatakan pembatalan eksekusi. Alhasil, Dostoyevsky dibebaskan, menangis terharu, dan 'hanya' menjalani kerja paksa di Siberia selama 4 tahun. Ini menjadi titik balik terbesar dalam hidup Dostoyevsky. 

Seperti Tolstoy dan (sedikit) Gogol, Dostoyevsky menjadi sangat religius dan kuat memegang ajaran Kristen. Dalam "The Idiot", ia bahkan pernah berkata, "tanpa Tuhan, semua hal tak akan terjadi," hal ini banyak dihubungkan oleh beberapa pihak dengan konteks kesempatan mendapatkan kembali kehidupan. Ya, ini lebih baik ketimbang Dostoyevsky malah menghamba sama kerajaan karena diberi kesempatan hidup, ya. 

Strategi yang dilakukan pihak kerajaan kepada Dostoyevsky disebut sebagai "mock execution". Tujuan dari siksaan ini adalah memunculkan trauma, ketakutan, sekaligus rasa syukur dan balas budi terhadap siapapun yang 'menyelamatkan' mereka. Strategi ini tak lekang digunakan sampai abad 21, bahkan ISIS dan CIA pun ikut menyontek cara-cara ini kepada tahanannya. 

Dibandingkan dengan Gogol dan Chekov, kematian Dostoyevsky bisa dibilang paling 'wholesome'. Dia sering terkena serangan epilepsi di akhir-akhir hidupnya dan terkena gangguan kronis di paru-paru. Tapi dia juga mendapat kursi mentereng dalam komunitas sastrawan di Eropa dan Rusia, hingga akhirnya Turgenev pun mau tak mau mengakui kehebatan karyanya. 

Saat pemerintah Tsar Nikolas II mulai suka grebek para pembelot lagi, Dostoyevsky sebetulnya masuk sebagai salah satu target tangkapan. Beberapa hari setelah tetangganya ditangkap, Dostoyevsky 'syukurnya' sudah lebih dulu meninggal dunia dan dimakamkan di sebelah sastrawan favoritnya, Nikolai Karamzin dan Vasily Zhukovsky di pemakaman Thikvin. Menurut catatan, sekitar 40 ribu sampai 100 ribu orang pelayat mendatanginya. 

Akhirnya Dostoyevsky, sastrawan besar penderita epilepsi yang religius, meninggal pada 9 Februari 1881 di usia 59 tahun.  

Penutup

Selain ketiga sastrawan ini, saya sebetulnya juga sangat suka dengan Solzhenitsin, Petruchevskaya dan Tolstaya. Mereka adalah sastrawan di masa Soviet dan post-Soviet yang genrenya tak jauh dari realisme. 

Tolstoy pun masih gemar, walau kadarnya sudah banyak berkurang. Lenin pernah 'gemas' sebetulnya dengan para sastrawan-sastrawan besar klasik ini, baginya kisah Tolstoy dan Gogol serta Dostoyevsky misalnya, sangat bagus sekali menggambarkan ketimpangan dan ketidakadilan pemerintah. Tapi kok, nggak dimanfaatkan untuk menggerakan massa? Kok nggak mampu sih? Sepertinya Lenin agak kecewa dengan arah peraduan para sastrawan yang lebih memilih sandaran agama ketimbang revolusi, huehe. Ya, bagaimana pun nggak bisa disalahkan juga mengingat sastrawan kesukaan Lenin itu Chernyshevsky.



Walau begitu, membaca dan berkenalan dengan literatur Rusia bisa jadi adalah hal yang mengasyikan dan maynblowing, dalam hidup. Dahsyat. Sekali-kali iqra, bacalah. Insya Allah menekuri salah satu karya dari penulis-penulis ini, tak akan membuang waktu percuma. 

Sumber:

https://www.theguardian.com/books/2012/jun/17/nikolai-gogol-collected-tales-review
https://www.rbth.com/literature/2014/06/05/the_final_days_of_russian_writers_nikolai_gogol_and_anton_chekhov_37225.html
https://www.theguardian.com/books/2013/mar/01/anton-chekhov-lifetime-lovers-play
Kirin Narayan-Alive in the Writing
https://books.google.co.id/books?id=LlWptVbVx90C&pg=PR73&lpg=PR73&dq=general+keller+russia+chekhov&source=bl&ots=8RmXYgNKGD&sig=W7MIDv8Xj8j0PGU-FRbwndM65dw&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwiV3I7WlqzZAhWIQI8KHd8YBG4Q6AEIRzAC#v=onepage&q=general%20keller%20russia%20chekhov&f=false
https://www.theguardian.com/books/booksblog/2010/sep/24/author-reputation-dostoevsky
https://www.theguardian.com/books/2015/mar/10/baddies-in-books-dostoevsky-notes-from-underground
http://www.todayifoundout.com/index.php/2015/02/execution-fyodor-dostoevsky/
https://www.theguardian.com/books/2004/jun/26/highereducation.classics

Jumat, 09 Oktober 2015

Dead Souls- Nikolai Gogol

"The current generation now sees everything clearly, it marvels at the errors, it laughs at the folly of its ancestors, not seeing that this chronicle is all over scored by divine fire, that every letter of it cries out, that from everywhere the piercing finger is pointed at it, at this current generation; but the current generation laughs and presumptuously begins a series of new errors, at which their descendants will also laugh afterwards."

Novel ini merupakan salah satu maha karya dari Nikolai Gogol, penulis Rusia yang hidup pada masa keemasan literatur Rusia tahun 1800-an. Pada karya yang berjudul dead souls atau jiwa-jiwa mati, Gogol membawa cerita tentang keadaan petani-petani Rusia pada masa kekaisaran melalui perjalanan sang tokoh utama bernama Pavel Ivanovich Chicikov. Chicikov merupakan anggota Dewa Kolegial sekaligus tuan tanah di sebuah kota di Rusia. Ia melakukan perjalanan panjang menggunakan kereta kuda bersama dengan kusir setianya bernama Selifan melintasi kota-kota kecil di daerah terpencil Rusia. Perjalanan yang dilakukannya bertujuan untuk mencari pemilik tanah atau pejabat kota setempat, untuk 'membeli' pelayan yang sudah meninggal. Hal tersebut dilakukan Chicikov agar ia mendapat status kaya karena memiliki banyak pelayan lewat bukti dokumen-dokumen pembelian pelayan.

Pada tahun 1861, sebelum masa reformasi di Rusia, pelayan-pelayan atau para petani yang tidak memiliki tanahnya sendiri (petani penggarap) dapat dipejualbelikan dan digadaikan oleh tuannya. Seorang tuan tanah juga wajib membayar pajak pelayan-pelayannya. Ketika sensus kepemilikan pelayan tidak benar-benar dijalankan secara efisien dan konsisten oleh pemerintah, pelayan yang sudah meninggal terkadang masih tercatat hidup sehingga pemilik tanah masih harus menanggung pajak mereka. Protes yang hadir karena ketidaktelitian pejabat pemerintah tersebut, hanya akan membawa para tuan tanah terbelit birokrasi Rusia yang bertele-tele, yang memakan biaya lebih banyak, sehingga mereka memilih untuk mendiamkan masalah.  Hal ini dimanfaatkan oleh Chicikov sebagai dalih untuk meringkankan beban pajak yang ditanggung oleh sesama tuan tanah untuk menjual pelayan-pelayannya yang telah meninggal kepadanya. Satu pelayan atau petani, dihargai dengan satuan jiwa.

Perjalanan Chicikov telah membuatnya banyak bertemu dengan beragam tuan tanah dari beragam jenis kekayaan dan karakter yang dimilikinya. Dari mulai janda kaya yang neurotik, hingga pemuda naif yang hopelessly romantic, mendambakan cinta sejati dari anak gadis jendral di kotanya. Selalu ada masalah pribadi dimana Chicikov turut ikut campur untuk menyelesaikan masalah agar negosiasi jual beli lancar dan ia mendapatkan kepercayaan penuh dari targetnya. Konflik mulai terbentuk dalam hidup Chicikov ketika perbuatan ilegalnya tercium oleh kepolisian Rusia. Ia menjadi target buron sehingga tak pernah lama menetap di suatu daerah. Hingga akhirnya, ia ditangkap dan berhadapan dengan sang pangeran. Sangat mengejutkan untuk segala pihak, baik pembaca ataupun Chicikov sendiri, karena ia dibebaskan walaupun sudah terbukti melakukan korupsi dan penipuan.

Menarik sekali jika melihat bagaimana cara Gogol menggambarkan sosok Chicikov sebagai pemeran utama yang sangat serakah dan egois ini! Karena kita akan mengikuti setiap pemikirannya yang cerdik dan licik, namun tingkah lakunya jenaka dan penuh dengan sopan santun layaknya kerabat raja. Kita akan melihat bentuk paradoks yang awalnya dapat dibedakan semudah melihat warna hitam dan putih. Namun, ketika menghabiskan waktu bersama Chicikov, kita akan tersadar bahwa orang-orang serakah terbungkus dalam berbagai ragam kulit dan kosmetik; yang terpancar dari tutur kata, bahasa tubuh, serta status yang digenggamnya, dapat dengan mudah membuat kita terlena melupakan kejahatan yang dilakukannya hanya karena tawa, iba, atau rasa simpatik yang berhasil dihadirkannya lewat pemaparan romantis tentang pengalaman hidup. Kita jelas tahu apa yang dilakukan oleh Chicikov adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan secara moral dan hukum, namun karena tarikan emosional yang dihadirkan, akhirnya melemahkan penilaian logis kita terhadap sang tokoh utama. Sekali lagi, Nikolai Gogol sangatlah jenius.

Karya Nikolai Gogol hampir selalu diwarnai dengan humor satir. Pada karyanya ini, Nikolai seakan menyindir bagaimana aparatur pemerintahan Kerajaan Rusia bekerja, dan bagaimana kondisi kesejahteraan masyarakat miskin pada masa itu. Para petani penggarap dan pelayan yang masuk dalam kategori masyarakat miskin hidup jauh dari kata cukup untuk hidup layak. Penggambaran itu terdapat dalam candaan yang kerap dilontarkan ketika menjelaskan keadaan petani dan pelayannya yang meninggal karena sakit, usia yang tua, dan cuaca ekstrim. Pembelian 'jiwa-jiwa' yang sudah mati itu tertera atas rentetan nama-nama belaka, seperti Peter Savelyev si Kurang Ajar atau Ivan si Roda.

Karya-karya Nikolai Gogol sangat cocok untuk dijadikan alternatif bacaan, bagi yang ingin menikmati nuansa humor dari situasi yang memilukan. Kamu mungkin saja tertawa kecil, lalu detik berikutnya akan merasa bersalah, lalu tertawa lebih keras lagi setelahnya. Sureal.



Rabu, 01 Oktober 2014

Не Первая Любовь, Только Снег Идёт (Not a First Love, Just a falling Snow)

Will be gladly if we can recall again the previous post titled 'Милый,Мой Старик'. Gladly, the continuity has been found. It was not that hard to find the continuity for you just flipped the next page (yes, please judge me, oh society). Better we face the truth then on that page which this toothless found. Ok, here we go, my friend, the story Снег (Snow) by К. Паустовский.

The previous story was ended in the scene where Potapov just stayed out the house and made a thought about coming home. While he was made an insightful thought, suddenly Mrs. Petrovna saw him and insisted him to come in. She already had sense that the guy was Potapov, her step son. The scene was describing that Potapov had a fancy and blank tea conversation with the host in the house, including Varya, Petrovna's daughter. An awkward conversation also happened between they both. Hours had passed, came the time where Potapov should have back to the battle-field-nature (for he is a Soviet soldier). Petrovna just said "Пишите. Мы теперь как родные. Правда?" (Write please, we are already just like 'family', right?". But Potapov did not say any single word to respond. Then, several days later after Potapov's visiting, He did wrote to Petrovna. The letter went like this:

"Я вспомнил, конечно, где мы встрачались. Помните Крым в двадцать седьмом году? Осень. Старый Ливадийский парк. Я шёл по дорожке в Ореанду. На скамейке около дорожки сидела девушка. Ей было, наверное, лет  шестнадцать. Она увидела меня, встала и пошла навстречу. Я смотрел на её. Она прошла мимо меня быстро, легко, держа в руке открытую книгу. Я остановился и долго смотрел на её. Это были Вы. Я смотрел тогда и чувствовал, что мимо меня прошла женщина, которая могла бы и разрушить всю мою жизнь и дать мне огромное счастье. Я понял, что могу очень сильно полюбить эту женщину. Тогда я уже знал, что должен найти вас во что бы то ни стало. Так я думал тогда, но всё же не двинулся с места. Почему -- не знаю. С тех пор я полюбил Крым и эту дорожку, где я видел Вас однажды и потерял. И вот Я опять встретил Вас. Если всё кончится хорошо и Вам нужна будет моя жизнь, она, конечно, будет Ваша. Да, я нашёл на столе у отца свое распечатанное письмо. Я понял всё и могу только поблагодарить Вас"

(I remembered, of course, where we met. Don't you remember year 1927? Autumn. Old Livadiskiy Park. I went on a way to Oreanda. On a bench there was a girl sat. She was, maybe, sixteen years old. She saw me, stood up and walked towards me. I saw her. She passed me quickly, easily, with her book on hand. I stopped and watched her long. She was you. I looked and felt that near me there was a woman, that maybe could destroy my whole life and give me warm happiness. I sensed that I could strongly love her. I then knew, that I should have looked for you by all means. I knew it but did not make any move even a little. Why? I dont know. I always love Krimea and it's path since all this time, where I saw you that day then disappeared. And again, I met you. If only all this happenings have to end well and you have to be my life, my life, off course,  will be yours too. Yes, I saw Papa's letters on the table. I see everything and can only say thank you.)

Yes, maybe one can think how romantic, sweet and naive he was. I myself hardly believe on a first-sight-love-kind-of-thing. Potapov kinda ruin my imagination though, kinda disappointed to him that he acted like a regular man near beautiful woman (not his false either). But couldn't he remember that Petrovna is his step mother? his Late Papa's wife? Those which he supposed to remember at the first place. 

Does not matter, the respond of Petrovna herself was unpredictable and...funny if can be said. It went like this:

"Боже мой, я никогда не была в Крыму! никогда! Но может ли теперь это иметь значение?"
(Oh my God, I have never been on Krimea! never! But could that be important now?)

Она засмеялась, закрыла глаза рукой. За окном горел и никак не мог погаснуть неяркий закат. 
(She laughed, closed her eyes with hands. Outside the window, snow has burned and the harmless rejection can not that easily be delivered.)


You have just mistaken me with somebody that already you knew too well, young man. 

Senin, 08 September 2014

Милый Мой Старик (My beloved Old man)

Home is not always sweet for everyone. Well, for me the phrase 'Home Sweet Home' does not fit. I prefer the room in Depok instead of in the house. But still, sometime I cant help myself to come home, checking whether Chomsky and Maurice are still alive, haha. Don't get me wrong, if you ever read учебник that released in Soviet regime that titled Снег (snow), you probably will understand. Haha, I bet most people haven't read. It is okay, I will give you the summary.

Снег (snow) is a story about coming home. The story begins when Mrs. Tatiana Petrovna is awaken in the night. She then read the letter from Nikolai Potapov. Nikolai Potapov is her step son who works as a soldier and he rarely comes home. Nikolai kept sending his Papa letter and still not knowing that Mr Potapov has already passed away, not knowing that the one who replied all his letters were Petrovna. She cant tell the truth. Then, Potapov had the time to invite his house. He takes the train, after arrives at local train station, he knew that his Papa already passed away several months ago. Now the house is lived by a woman who once an artist (Petrovna) and her daughter, Varya from Moscow. He knows those from local people. He then walks between the snow to reach home. When he arrives in front of the gate, he is just staring and thinking a lot. He thinks that the house which his Papa lived used to be warm, but now lives somebody else in there. It is not the same anymore. Better not see, better go further.

"Он решил в дом не заходить, а только пройти мимо, зайти в сад, постоять в старой беседке. Думать о том, что в доме отца живут чужие люди, было тяжело. лучше не видеть. уехать."
(По рассказу К. Паустовского- Снег)

"Ia memutuskan tidak masuk ke dalam rumah, hanya melewati saja, ia berdiri di pekarangan, di punjung (rumah kecil). Berpikir bahwa, rumah tempat ayahnya yang hangat dulu tinggal, kini dihuni oleh orang asing. Lebih baik tak usah dilihat. menjauh saja." 



Well, I feel the same way as Nikolai Potapov's.