Tampilkan postingan dengan label politic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politic. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Januari 2018

Susah Sinyal: Kalau Candaannya Nggak Seksis Memang Kenapa, Sih?

Menyambut tahun baru 2018, saya beserta dua adik kembar dan Mama hangout kecil-kecilan (?) di sebuah Mall di daerah Bekasi. Di tengah kumpulan keluarga lainnya, kami nonton Susah Sinyal di bioskop. 

sumber: Youtube
Waktu itu, bangku di ruang teaternya hampir terisi penuh dan rata-rata penontonnya adalah rombongan keluarga. Di samping saya saja, berderet tiga bocah SD dengan Ibunya dan Bapaknya di sisi terluar. Saya perhatikan, anak-anak itu sudah disiapkan macam-macam 'kebendaan' oleh orang tuanya, kayak selimut (selimut panjang yang muat bertiga), cemilan (yang diseludupkan, tentu saja, entah bagaimana caranya), freshcare green tea (saya familiar sebab punya juga), kaos kaki, dan minuman sirup jeruk (kebauannya hinggap di hidung saya).

Ketika film dimulai, saya agak-agak cemas. Selain adek-adek SD di samping tiba-tiba teriak kecil karena sempat menyangka akan nonton film horor (lampu perlahan kan dimatikeun tuh), saya punya 'tanggung jawab moral' juga untuk memastikan film ini bakalan lucu dan fun abessh, seperti yang diharapkan Kanjeng Mama Ibunda. 

Awal cerita dan alur film berjalan baik-baik saja. Saya mulai optimis filmnya bakalan bagus. Oh iya, film ini secara garis besar bercerita tentang hubungan ibu yang workaholic dan anak abg-nya yang masih bermandikan ego (naon). Adinia Wirasti  (Ellen) berperan jadi ibu penggila 'kerja kerja kerja', sementara yang jadi anak abg bermandi ego itu adalah Aurora Ribero (Kiara) artis baru yang blasteran.

Cocok lah ya, tema film dengan keadaan saya sekeluarga sebagai penonton. Ohya, Ernest Prakasa, komika elite itu, jadi penulis naskah dan sutradaranya. Penting diingat, nieh.

Di tengah cerita filmnya, Ellen dan Kiara memutuskan untuk liburan (di tengah-tengah masa sekolah dan kerja) ke Sumba, NTT untuk menciptakan bonding antara anak dan ibu yang selama ini anyep. Btw, kayaknya daerah Sumba memang sedang menjadi spot 'eskapis' favorit sineas Indonesia, ya? Ernest sendiri bilang, kalau pilihannya jatuh ke Sumba sebagai wadahnya berpromosi supaya Sumba terkenal dan jadi tempat wisata. Aheum, saya sudah agak-agak antisipasi dan antipati kalau-kalau ada colonial gaze berbalut eksotisma Sumba dalam adegannya. Dan ya, adegan itu ada, huhu. 

Nah, yang lainnya nih, yang saya wanti-wanti tak perlu ada, candaan mesum. Sudah tertawa ngakak dan menangis (dikit) di pertengahan film, saya jadi jijik dan males euy saat candaan nggak penting ini muncul. Sayang sekali, penokohan, alur, akting, dan cerita yang sudah rapi, top markotop, dan alami itu harus dirusak dengan jokes murahan yang menyerempet sexual innuendo alias mesum. Objeknya? tokoh penyanyi dangdut yang sedang liburan bersama dengan suaminya di penginapan Humba, tempat Ellen dan Kiara menginap. 

Ugh, saya salting. Soalnya nggak enak dengan Kanjeng Mama Ibunda dan adik-adik. Ini kan film keluarga, kok nganu?! Ohya, apa kabar dengan keluarga yang piknik di sebelahku ini? Hm, kegelapan bioskop tak bisa menjawab. 

Semangat sudah turun beberapa derajat saat kemesuman muncul. Seterusnya, saya jadi terganggu dengan jokes-jokes yang dilontarkan Arie Keriting dan Abdur Arsyad (habis garink, kak). Ironis sih, soalnya Arie Keriting ini, jadi semacam humor consultant dalam penggarapan film 'Susah Sinyal'. Entahlah. Padahal akting-akting dari komika lainnya (btw, ini film bertabur komika) seperti Dodit Mulyanto, Yusril Fahriza, Aci Resti, dan Ge Pamungkas, itu sudah bagus dan beneran lucu tanpa harus mesum. Lha, tapi konsultan kok humornya anyep gini? 

Saat film selesai, adek-adek saya dan Mama kelihatannya puas banget dengan filmnya. Mereka bilang, "seru, Mbakk!" Sementara tiga bocah SD di samping saya ternyata ketiduran sejak pertengahan film. Saya sendiri tetap merasa terhibur dengan filmnya, ada kesan yang ditinggalkan seperti, "AKU TAMBAH SAYANG MAMA!". Tapi ya tetap ada yang mengganjal karena jokes itu. Biarkan saja sebab saya adalah @difficultgirl69. 

Komika Indonesia Seksis?


Kenapa sih sepertinya kok le-bye banget gara-gara candaan mesum setitik jadi lemes? Kenapa? Karena saya jadi teringat seorang kenalan komika jebolan SUCI yang candaannya ngono. Dia nggak membawa tema mesum tiap manggung sih, tapi homofobik parah (ya mesum sih). Dia-yang-namanya-tak-perlu-disebutkan berkata di telinga aink kalau LGBTQIA itu nggak normal, menjijikan, dan dia 'merasa' punya 'power' buat share bahaya LGBTQIA lewat jokesnya. Astagfirullah!

Kalau diperhatikan, candaan-candaan komika Indonesia memang seksis, mesum, dan patriarkis. Ini pernah diamini juga sama Intan Paramaditha, penulis buku dan feminis, di akun twitternya beberapa waktu lalu. Lihat sajalah, pegiat awal Stand Up Comedy di Indonesia, Raditya Dika. Dia kerap melontarkan candaan seksis, yang bilang cewek tuh makhluk yang aneh, cewek menjajah cowok, frekuensinya pertemanannya berbeda dengan laki-laki, cewek tuh bego, dan lain-lain (good luck yang bakal jadi istrinya nanti).

Stereotip gender yang ngablu itu (berkembang jadi candaan jomblo vs pacaran yang juga norak), seakan dijadikan pola atau template buat komika-komika muda setelahnya sebagai bahan jokes dan terus direproduksi. 

Hm, Ernest dengan candaan mesum yang mengobjektifikasikan perempuan, kawan komikaku yang homofobik, dan Raditya Dika yang seksis, punya kekuatan simbolik, budaya, dan kultur, secara mereka adalah komika terkenal yang sudah banyak berkarya dan punya koneksi cihuy di industri hiburan dalam negeri. Banyak komika muda look up dan menganggap mereka 'panutan' untuk mulai berkarir atau belajar di ranah ini. Kekuatan mereka itu something.

Somehow (azeek), apa yang dibilang oleh kawan komika homofobikku tentang power tentu tak salah sama sekali. Justru agak berbahaya sebab dia sadar dan 'sengaja' menggunakannya untuk hal yang buruk. Ya, bagi saya memperparah stigma negatif soal kelompok LGBTQIA adalah hal buruk nan sia-sia mughallazah.

Komika terkenal sekelas Ernest, kawan homofobikku, dan Raditya Dika memang punya kekuatan untuk menyelipkan pemikiran dan asumsinya yang tabu, dianggap berbahaya, salah, dan berseberangan dengan norma-norma sosial lewat humor-humornya. Humor dapat melebarkan penerimaan terhadap ketabuan-ketabuan itu secara santai seolah tanpa ancaman. 

Sebetulnya, kalau pisau ini dipakai untuk meluaskan ketabuan untuk membicarakan korban-korban PKI, Tragedi 1998, kemiskinan di Indonesia Timur, ketimpangan sosial, dan lain-lain, akan jauh lebih berfaedah dan bermakna. Nah ini sebetulnya sudah dilakukan Ernest dan Abdur, mereka keren untuk tema itu. Tapi apapula, saat bicara dengan kawan homofobikku dia bilang "Ah, aku kan bukan mau mendydyk, tapi menghiboer," Hm, ok.

Humor Seksis Itu Berbahaya!


Candaan seksis yang datang dari Ernest dkk, hanya membuat mereka merasa bebas mengekpresikan antagonisme terhadap perempuan dan memberi sinyal jika mengekspresikan attitude seksis itu tak berbahaya, perlu dilakukan, bahkan menyenangkan! Tentu saja itu nggak bisa dibenarkan, boeng!

Semakin dianggap normal dan 'biasa-biasa saja' sebuah candaan seksis, maka perilaku misoginis juga akan dianggap lumrah dan kekerasan terhadap perempuan bisa jadi semakin tinggi. Di sebuah penelitian bahkan ada korelasi terhadap budaya menyalahkan korban dengan kasus perkosaan. Semua itu bermuara dari keberadaan candaan seksis yang menganggap mengobjektifikasi perempuan adalah hal yang menyenangkan dan lucu. Alih-alih dianggap sebagai hal yang kasar dan bertentangan dengan norma, candaan seksis malah dianggap hal yang ironis. Ew!

Candaan seksis jelas punya kontribusi dalam pelanggengan budaya kekerasan terhadap perempuan. Lihat saja gambar piramidanya di bawah ini. 


Akibat fatal dari sebuah candaan seksis dalam piramida di atas adalah pembunuhan dan perkosaan. Tapi bukan berarti sebelum adanya pembunuhan dan perkosaan, perlakuan kekerasan lain nggak dianggap berbahaya. Justru benih-benih kekerasan harus dihentikan saat candaan seksis menghadang.  (((menghadang)))

Intinya, dampak dari candaan yang seksis itu nggak lucu sama sekali, boeng!

Oh iya, kalau masih bingung bedain gimana candaan seksis, paling mudahnya melihat dari segala jenis candaan yang menggunakan perempuan sebagai objek untuk bahan tertawa. Nah, candaan mesum itu ya seksis sebab (pasti) selalu mengobjekkan perempuan di dalamnya. Ini juga berlaku untuk candaan homofobik yang menjadikan kelompok LGBTQIA sebagai objek tawa. Leave them alone!

"Ah Mel, kalo aink mah orangnya posmo siyh. Jadi ndak anggep teks skrip yang dibuat Ernest Prakarsa di Susah Sinyal itu seksis." 

Gini, bro (anjir, sok asik), teks dan wacana itu nggak hanya dibentuk, dia ada juga untuk mengontrol dan bahkan mendisiplinkan. Bukan aink yang ngomong, tapi Foucault, dewa Posmo tuh. Ernest dan dua partner pembuat skripnya, Jenny Jusuf dan Meira Anastasia, yang membuat candaan seksis dalam skrip film, membentuk dan mengontrol bagaimana perempuan seharusnya diobjekkan dalam film. Mereka bertiga mendefinisikan sebuah karakter perempuan yang layak jadi objek tawa dengan hal-hal mesum. Bagaimana bentukan perempuan yang pantas ditertawakan ala mereka? Yang seperti penyanyi dangdut itu, yang berkata dengan manja, "aduh, untung bukan ketumpahan susu, bisa lengket deh." Nope aint funny and yes the script also the writers are all sexists. 

Tanpa candaan mesum, film Susah Sinyal masih bisa lucu, memiliki pezan moral, seru, keren dan aman dinikmati oleh berbagai lapisan umur tanpa terancam salting. Saya sampai merasa bersalah dengan Kanjeng Mama, adik kembar, adik SD itu, dan bahkan keluarga di samping padahal syapa lu, mel, gara-gara kemesuman maksa itu.

Makanya saya jadi penasaran sendiri, memangnya kenapa sih kalau hanya sekali saja candaan yang seksis atau mesum tak dikeluarkan para komika?

Berhenti yuk membuat candaan seksis itu normal dan wajar, jangan sampai itu malah jadi norma. 

Minggu, 21 Februari 2016

LGBTQIA di Indonesia Lagi, Kapan Gajianku?

Semakin hari, topik pembahasan mengenai LGBT semakin marak. Di media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Line, dan lain-lain, orang-orang berlomba-lomba membagi berita atau menyerukan pendapatnya. Dan seperti yang sudah di dalam kandungan bisa kita tebak, poros ini terbagi dalam pro dan kontra.

Haruskah kita mengambil posisi untuk menyatakan sikap kita terhadap pemberitaan LGBT ini? Saya pernah menulis di post terdahulu kalau topik ini tidak terlalu penting menurut saya, karena saya tidak memandang adanya perbedaan yang berarti dari LGBT ini dengan saya sebagai hetero dalam hal mencintai. Tetapi, melihat banyaknya fitnah dan kedunguan tak berujung, saya pikir kita bisa membantu meluruskan atau setidaknya mengurangi polusi berita-berita yang beredar. Menolak segala bentuk penindasan yang dilakukan terhadap minoritas itu harus selalu dilakukan. Kali ini saya ingin membahas baik dari respon masyarakat serta apa yang mendasarinya mengenai LGBT. 

gambar didapat dari jflag.org


Karena saya lumayan aktif bermain Facebook, saya cukup familiar dengan status-status mayoritas teman yang bersuara mengenai LGBT ini. Tema ini menyeruak hangat dibicarakan tidak hanya di media sosial tetapi juga pertelevisian. Menurut saya, sejak kasus SGRC UI beberapa waktu lalu, isu LGBT perlahan tapi pasti ramai dibicarakan. Mayoritas dari mereka membuat bingkai berita yang menjatuhkan, seperti menyebut kelompok LGBT adalah sekte seks (I laughed my lungs out when I read this term), kegiatan yang haram, harus diperangi, disuruh untuk bertaubat dan disembuhkan, dan lain-lain. Tetapi sebenarnya, dari beberapa pernyataan, kita bisa lihat bahwa bentuk penerimaan dan penolakan masyarakat terhadap isu LGBT ini juga beragam. Ada yang sama sekali menolak dengan memakai dalih agama, ada yang menerima dan mengharuskan LGBT ini bertaubat dan disembuhan, ada yang menerima tetapi menolak mendukung legalitas perkawinan LGBT karena dalam agama apapun tidak ada sejarahnya, dan ada yang menerima secara pergaulan sosial. 

Benang merah paling jelas yang menghubungkan semuanya ada di dalih agama yang dipakai. Baik masyarakat menengah atas ataupun bawah, memakai dalih agama sebagai cara berpikir rasional ketika dihadapkan dengan isu LGBT ini. Walaupun datang dari kelas yang berbeda, namun mereka memiliki dasar pegangan yang sama. Nah, terlepas dari beragam berbagai ekspresi menolak, saya menemukan lagi pertanyaan dari kaum yang anti LGBT ini. Mereka mempertanyakan perlakuan diskriminasi seperti apa yang dihadapi oleh LGBT. Contohnya ada di post Facebook satu ini. Sekali lagi, simbol yang berhubungan dengan agama dipakai sebagai perbandingan. Penulisnya membedakan diskriminasi yang terjadi terhadap muslimah yang berhijab tertutup, lalu mempertanyakan apa beban yang sudah dialami oleh LGBT. Mungkin si penulis belum pernah membaca atau menemukan Berita banyaknya pembunuhan yang terjadi pada LGBT. Diskriminasi yang dialami datang, yang satu karena memakai simbol yang bisa langsung terlihat sedangkan yang lain tidak. Tetapi, yang saya pelajari lagi (terlepas benar tidaknya tulisan yang dibagi oleh penulis di Facebook ttg hal itu), ternyata walaupun sama-sama tertindas, tidak lantas membuat orang menjadi memahami penindasan yang dialami oleh orang lain. Sehingga alih-alih mendukung, malah membandingkan penindasan mana yang paling parah diterima oleh suatu pihak. Seakan-akan menunjukan perangai 'aku-yang-lebih-menderita' atau playing victim.

Nah, saya tidak akan menangkis pandangan tersebut dengan argumen lain. Saya mau membahas dalih yang mendasari argumen para anti LGBT ini, yakni mayoritas agama. Kita juga tahu, bahwa dalam agama apapun LGBT ini diharamkan oleh agama. Tetapi tunggu dulu, apa yang diharamkan? orangnya kah? perilaku seksualnya kah? atau afeksi yang dilakukannya kah? Coba buka tautan ini untuk lebih jelasnya. Lewat fiqih atau hukum islam, LGBT dipandang secara konservatif. Sejauh ini yang dilarang merupakan liwath' atau aktivitas bersenggama yang dilakukan oleh pasangan gay. Karena memang secara kesehatan kegiatan dengan cara demikian akan membawa banyak penyakit dan kuman. Tetapi, sebenarnya, kegiatan seks dengan cara demikian tidak hanya dilakukan oleh pasangan gay saja. Hetero juga banyak yang melakukannya. Jadi sebenarnya, pesan yang turun ini tidak hanya berada dalam konteks diturunkan untuk kaum gay, namun sebagai peringatan kepada siapapun yang menganut orientasi seksual apapun untuk tidak melakukan kegiatan seks secara anal. Nah, apakah kamu bisa mencintai tanpa mengaharpkan seks? Itu persoalan lain, ya. Dan yang lainnya, karena pernikahan sejenis tidak diperbolehkan, maka kegiatan seksual mereka dinilai sebagai zina. Yah, ini juga berlaku pada yang hetero, kan. Kalau belum terikat pernikahan maka kegiatan seksual yang dilakukan (baik homoseks atau heteroseks) adalah zina. Lalu, bagaimana menyingkapi kaum LGBT? ah, repot sekali, terima saja mereka. Kenapa harus repot memikirkan hidup orang lain? Kenapa pula harus takut? Saya kenal dengan seorang gay yang relijius, ia memilih single dan mengadopsi anak perempuan. Sekarang ia bahagia menjadi single father. Thats it. Dia masih beribadah ke gereja dan berdoa, keluarga menerima. 

Dalil agama yang menjadi pegangan para anti-LGBT bisa kita lihat dalam kacamata politis, lho. Isu LGBT ini seakan pas mengisi kekosongan masyarakat dalam hal mencari 'musuh bersama'. Setelah kubu Prabowo dan Jokowi mulai lenyap secara perlahan, isu LGBT seakan menjadi kapal baru untuk ditumpangi. Pemahaman masyarakat terhadap isu ini juga sangat rendah, mereka kebanyakan tidak mengenal perbedaan orientasi seksual dan penyimpangan seksual. Ketika dihadapkan oleh suau fakta, tidak akan diterima dan coba untuk diolah sama sekali. Mereka hanya mau membaca atau menerima hal yang sama dengan apa yang dipercayai. Tidak akan ada perkembangan. Terlebih ketika pemerintah ikut bermain di dalamnya, media pun ikut serta. Seolah, isu LGBT ini memang mempersatukan kita antar-ras, agama, budaya, sistem ekonomi dan lain-lain. Persis ketika zaman dahulu, ketika isu Cina, Asing, Komunis, didengungkan untuk membakar emosi untuk menyerang 'musuh bersama'. Setelah tidak lagi ampuh, maka LGBT kini menempati topik. Seperti yang Tom Bellstroff pernah bilang, isu anti-LGBT di Indonesia merupakan suatu petunjuk bahwa ideologi militeristik, fasisme, maskulinitas, dan patriarki mulai terancam. Jadi, walaupun benci setengah mati untuk mengakuinya, kita bisa bilang bahwa negeri kita masih kuat memegang ideologi demikian. 

Jadi, apa yang sebenarnya mau saya bahas? hahaha. Well, saya ingin melihat isu LGBT ini dari sudut pandang ketiga. Saya ingin tahu mengapa masyarakat begitu intens menaruh perhatian terhadap masalah ini. Karena, ini adalah isu kelas menengah, di mana mereka terpapar oleh pemberitaan dari media luar negeri tentang pernikahan sejenis. Baik anti LGBT dan pro LGBT akhirnya bereaksi sehingga akhirnya meluas, ditambah dengan permasalahan yang pernah menimpa SGRC UI beberapa waktu yang lalu. Saya hanya ingin menambahkan, bahwa dalih agama yang menjadi pegangan paa anti LGBT ini pada akhirnya jauh dari kata toleransi. Seruan kebencian diperlihatkan dan mendapat dukungan. Ini bisa jadi menunjukan bahwa krisis kepercayaan terhadap sebuah rezim (dalam hal ini, pemerintahan Jokowi) sudah merosot, sehingga akhirnya para konservatif mencari kembali 'musuh bersama' untuk kembali bersatu. 

Akhir kata saya berdoa agar kita senantiasa dijauhkan dari segala bentuk kedunguan, kesempitan hati dan pikiran, amin. 

ucla.org












Jumat, 27 November 2015

"Kita Semua Buruh!" Membicarakan Buruh Setelah Gajian Pertama Kali

Saya gak akan membahas teori a, b, c mengenai ekonomi. Apalagi membahas mengenai beberapa prediksi mengenai ketahan perekonomian NKRI terkait peraturan perundangan PP no 78 mengenai buruh. Fokus saya di sini ingin memberi alteratif pandangan lain mengenai demo buruh yang terjadi pada tanggal 24-27 November 2015. 



Bisa jadi, pandangan saya ini juga bersinggungan dengan pengalaman bahwa saya dan dua adik kembar saya bekerja sebagai buruh. Saya hanya tidak habis pikir dengan sekelompok manusia yang memaki dan mengecilkan usaha buruh melalui demo dan perjuangan selama tiga hari ini. Bahkan lucu dan bodohnya, saya menemukan sesama buruh menyinyir perjuangan teman-temannya untuk turun ke jalan. Apakah mereka tidak tahu mereka itu juga buruh? Tapi sebenarnya, apa sih pengertian buruh itu?

Menurut wikipedia, buruh adalah tenaga kerja, karyawan atau pekerja berupa manusia yang mengguakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan, baik berupa uang maupun bentuk lainnya dari pemberi kerja, pengusaha, atau pun majikan. 

Intinya adalah, selama Anda tidak memiliki dan menguasai alat produksi sendiri, dan menerima upah dari tenaga yang dikeluarkan, maka Anda adalah buruh. Anda yang bekerja di perusahaan mulitansional dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta, jika Anda demikian, maka Anda juga buruh. Anda hanya memakai baju berkerah, berkancing, bergincu, dan berpantofel saja. Kita semua buruh.

Aksi buruh dari tanggal 24-27 November kemarin adalah untuk menuntut dicabutnya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Peraturan tersebut dinilai tidak adil, karena perwakilan buruh tidak dihadirkan dalam pembahasan tersebut. Yang terlibat hanya perwakilan dari pengusaha dan pemerintah (biasanya yang hadir adalah bupati atau walikota), sedangkan perwakilan dari buruh tidak dihadirkan sama sekali. Peraturan ini juga mengancam UMR yang selama ini sudah  berlaku di beberapa kota, bahkan ada kemungkinan untuk turun. UMR akan dipukul rata senilai Rp. 2.050.000,-.

Tentu saja hal tersebut bermasalah, karena kebutuhan dasar di tiap daerah akan berbeda nominalnya. Kenapa UMR sebesar (kira-kira) Rp. 2.000.000-an di daerah Surabaya sudah cukup karena memang nilai itu sudah cukup untuk kebutuhan di Surabaya, dan tentunya akan berbeda di kota lain. Ini penjelasan lebih lanjut mengenai demo buruh 24-27 November

Selebih itu, kita harus malu karena tanpa harus berpanas-panasan di jalan dan berdemo, kita sudah bisa menikmati perjuangan mereka. Kebijakan seperti UMR, fasilitas kantor, cuti, cuti hamil, cuti haid, 8 jam kerja, THR, dan hari libur nasional bisa didapatkan karena usaha mereka turun ke jalanan. Hal-hal yang kamu nikmati berkat perjuangan teman buruh yang lain

Masihkah kamu merasa tidak mau disamakan oleh buruh? 

Adalah hal yang sangat menyedihkan bila kamu tidak peduli dengan perjuangan mereka, terlebih lagi jika kamu malah menyindir karena macet yang harus kamu lalui. Kamu harus ingat bahwa ketika kamu menyinyir mereka dari dalam kantor tinggi yang nyaman, kamu turut menikmati pula perjuangan mereka. 


B

Rabu, 30 September 2015

Valuing G30S PKI in the year of 2015

Back to several years ago, When I was 14, my junior high school held an event on this very special date. The students were walking together with a teacher heading to a place in the noon. At that time, I  had no idea about the event itself, I was busy catching and glimpsing at the boy who attracted me. Arriving to the place, I just got to  know that there are mini theater near my school field. It was pretty old building with many large windows. It was so chill being inside because of the natural wind that howled. After getting a place to sit, I also got to know that we would have a movie called 'Penghianatan G30S PKI' to watched. 

It was so difficult to catch a dialogue since I sat too far from the screen. I just had seen the motion picture instead of listening the dialoge. All that i have recall about that is, bloods everywhere and the 'yikes eewh' respons from the audiences which were students of junior high school. Some of my friends had no interested to follow the movie until the end, but the rest were so serious and seemed like absorbed everything that came out off from the screen. It was a pretty interesting movie, I thought to myself at that time. There is something in that movie that blatantly and brutally wanted to offer. After the event, we were all sent by the teacher who headed us a gist and a message that, Communism and Indonesian Communist Party is really dangerous. He continued that, Communists are murders, they were all atheists that need to be demolished. For us, he really wished that none of us would not take any steps to even know or learn about Communism, because it same as you wanted to betrayed your God or murtad. We were all in deep and depressing silence. 

Years passed, the effect of the propaganda movie called G30S PKI still lingered since the school did the same thing every single year (at that time, I even made a circle that called G30S CMC, standing for our victory on took over a spot on a class). But, it did not long. When I was in senior high school, I was one of three people that in charged on class drama, I made a script and dialogue. The theme was about the effort of Indonesian got freedom over Dutch and Japan. I read a lot of books that relate to the events. I got me sinking too deep of it until I read about G30S PKI, I can not find a logical relation when I asked my teacher why PKI killed the generals, she said it is to replaced Soekarno's position as a president of Indonesia. Wait, so Soekarno just made a Party to demolished himslef??? She just repeated what she said and then left.

The propaganda that New Order regime did had powerful impact to certain generation. My parents are the best example on how Indonesian majority valuing PKI, Communism, General Soeharto, and New Order itself. They taught me that Indonesia has incompetent and unreliable president but Soeharto. 'Indonesia had their best time during his regime' Mom added. The Indonesian majority also agree that the family that accused of being 'communists' needed to be destroyed or even be killed. So, with the propaganda movie called, 'Penghianatan G30S PKI', people who accused had a relationship with PKI for no apparent or logical person, was OK to be killed and or murdered and or demolished, in order they are not treating Indonesian and it's military hero. 

The reality is not that it. Oppenheimer on Jakarta Post September 29th wrote that, On Oct 1 1965 six army generals in Jakarta were killed by a group of disaffected junior officers. Soeharto assumed commanding the armed forces, blamed the killings on the leftists (term for Comunists), and set in motion a killing machine. Millions of people associated with the 'leftists' or left leaning organizations were targeted. It made the nation dissolved into terror. Soeharto usurped Soekarno's authority and made him as de facto Presdinet of Indonesia by March 1966. He enjoyed full support from America from the very beginning. We must point it out Soeharto with American support, murdered more that 500,000 people with the hands of Indonesian Army and the civilian squads. The numbers were not including those who were tortured and sent to concentration camps for decades. Within the effect of that propaganda movie, Soekarno had demolished his political enemy under the the term 'communists'. It also include Chinese, rights activists, and union members. 

The current president, Jokowi, ever indicated that he would address 1965 massacre, but he has not made any other steps to end military's impunity. it is our turn, the one who ever had a time to rollback and learned the true history of Indonesia, to educate our beloved ones. Today should be a reminder that we must take a time to stop and respect for the lives that has been brutally destroyed, admitting our roles of destruction, and starting the healing process to begin. 



Senin, 27 April 2015

Mary Jane

   I clearly remember how I cheerfully supported Jokowi last year. Also, how I admired him as a person still lingers until now. I did feel happy and moved about his winning on presidential election for I have told all my beloved ones to choose him. I still hold my reason on why did I choose him, why not the other one? The reason is, therefore, his concern on human rights issue in Indonesia.

  Months passed, his works is being viewed. Nothing much happens on Indonesia in his's. Honestly, I become more and more skeptical seeing Indonesian political matters. More and more depressed whenever read anything that correlates to governmental policies. I always whisper to myself, "where the fuck are you, Jokowi?"  

  The exact same matter occurs also when I see many the use of the death penalty against foreign citizens to fight drug trafficking. Nope, no. I can not just be skeptical, it rushes me to tears. After Bali Nine, this very time, Indonesia is about to execute Mary Jane on 29/04/2015. The execution of Mary Jane once again will not improve or even make our sustainability towards drugs trafficking in Indonesia gets better. Otherwise, it will depict clearly that we are that lazy to do deep research about her case. Mary Jane is not a perpetrator, she is a victim of international narcotic mafia's massive crime.  

   Where are you now, Mr Jokowi? will you listen to us? will you react on rejection of Mary Jane's execution for she is a truly victim of human trafficking, victim of our unfair law system, also international narcotic's mafia's crime? 

   I will not sorry that I no longer have that kind of admiration left just like I had over you last time. 


Jumat, 21 November 2014

One Is Not Born, But Rather Becomes, A Woman - Beauvoir

Being a feminist is not about trying to imitate men, hatred to men, burning bras or naked. Being feminist is about free to decide who you want to be, how to act and be responsible to your choice. It is not a shame to demand respect. 










Source: @grenta's journal

Kamis, 20 November 2014

Hard to Spell, Easy to Practice: Misogyny



Being a woman is suck, she said. At a second the wrinkle on the forehead shaped, presenting disagreement. But then, slowly the wrinkle gone, the eyes were pointing to a random object, still thinking. Ah, ya she is not that wrong. I can follow her saying about that. Like it or not, I must admit that being a woman in this patriarchal and misogynist country is utterly suck. The pain of having menstruate every month is not enough, women have also facing affliction, oppression, underestimation, silly cat-calling, and stereotyping, labeling from society.

Being a widow, by a divorce or death separated, is a major deal on this society. By having that status, you have to ready that people will stare at the back and make the opinion that you are about to lose the wealth or poor or difficult to suffice the daily needs for you and the children as well, because there is no spouse to do so for you. 

 I have secret for you, society, protect your own lover or husband to not fall for them, do not let them chat too long, help too often, or even laugh with them. 

By having status as a widow, every main thing will connect to economy and sexual theme. Economy theme will lead their thoughts that you are easy to lean on everyone that has lots of money. Also, It is not a problem being in affair with somebody's husband or being a second or third or so, as long as you can bath money. Well, if  money is not the main thing you count, it is alright to still have someone who holds or shares sexual desire with you. It is because you are so lonely, right? I am damn right. 

Fuck it, people.

Just fuck it. I can not process or even accept that way of thinking. Being widow for a woman is much harder. People use the word 'widow' to allow their logical fallacy of thinking to be true. With the word 'widow' for a women, people disgustingly related to anything lower; economy, morality, behavior. (I am sorry, I related this to my nearest experience). Cut that off!!!

Being a widow for a woman is a real struggle. If you, my good friend, want to know what they really pass on their life is, they actually spare their major time to work and pray. They try to stand up again after losing their life partner to continue the life. Life is keep walking and have to be continued even with the unlikeliest way. There is no time to think about so, to think about what most people have in mind about them and their activities. 

Clean up the mind, spare the time to think that stereotyping and labeling just make your head narrower. Do not see them by the status, but simply human. Respect them just like you want to be respected by others. 

The society is not yet mature enough, can not hope big on it though. But for you, my friends, I hope you do not swim your mind to those rushes. Please turn back, be mature and just respect everyone. For you who struggles on this patriarchy and misogyny world, my friends, even though we may not meet, cry, kiss or, even laugh together, I love you. With all my heart. 





Rabu, 12 November 2014

The Look of Silence (SENYAP)

I was having a little tantrum because of unpredictable notification on Gmail. That immature rage brought me to  Taman Ismail Marzuki alone, I was hoping that I still got the chance to watch documentary movie titled The Look of Silence by Joshua Oppenheimer. For you, who already have watched Jagal: The Act of Killing, must be know who that guy is. He is the director of both Jagal and The Look of Silence documentary movie.

The Looks of Silence's movie poster
I myself was more into this one than Jagal, both were amazingly disturbing but The Looks of Silence was more surreal and emotional because it used the view point of a Mother. The first line which a Mother sung in the beginning of the movie made my eyes swollen. Joshua was a wrecker because he made me laughed but guilty in the next second, until I could not anymore laughed. People were still bursting that they forgot about the object that they were laughing at,was the victim of deepest sadness and sorrow, who finally lost and chose to forget the sadness, then be numb in his 100th. This documentary movie, once again question the humanity issue in Indonesia and depict how Indonesian people see it. The result is unfortunately disappointing. You can see the culmination point of anger, sadness, disappointment, confused, and  rage on his eyes.

Adi Rukun (the main actor of SENYAP, brother of Ramli allegedly PKI)

History subject that our teachers had taught us in Elementary School to Senior High School just delivered a dichotomic conclusion, therefore bad or evil, right or wrong. It did not leave the students think critically cause the teacher just put in the dogma. That is what happens on our society seeing communism and G30S PKI. They blabber that communism is an atheist system, need to be demolished, so it is okay killing somebody that an atheist. Killing and drinking their blood, if I my add. Can you process that? killing somebody because one allegedly an atheist and drink their blood to keep sane? This is about humanity (and I believe no religion order their people to do so as well), no one allows to kill  another for being so. It is a violence of human rights! Our symbolic society keep choosing to be deaf anyway. 

Well, I ran out of the words. I can not say much but BRAVISSIMO to this work. I hope this kind of work will slowly but sure, open up the eyes of our society facing Indonesian humanity issue. Let us stop that gengsi act and mind this issue. I also hope many Indonesian sineas will be brave bring up this topic to us to a larger space. Thank you, Oppenheimer! 

Senin, 29 September 2014

The Betrayal, They Said

Nothing beats the ambiance of late night. Sometime, it is worth trying to go out of the room and seeing the night sky in that ungodly hour. No matter blurry or clear the night is. Different feeling may be felt at that moment. The bat even can not cut through the night. The mild nowhere winds, the moon and starry stars, even the hopes which come from the endless grievance, can not cut through as well. There is nothing so called heroic thingy. There is no stares at all. There is nothing but solitude.

As a Javanese gal, the phrase liyep layap ing aluyut (half sleep and awake) seems really close, it is also known as the moment where the truth is showing. It is like someone who wears burqa putting it off and nothing covers one anymore. The truth comes along with the realization without asking, or even is being repulsed. It's naked just like that.

Other nut shell, Indonesia was just having a really happening moment. The Democrat Party factions in House of Representative (which brought the person to be a President of Indonesia--Susilo Bambang Yudhoyono) were making a walk-out action to expressed their neutrality during the plenary meeting of new bill direct/indirect regional elections of regional leaders. The result was showing that Regional House of Representative would give regional legislative council the rights to elect the regional leaders. That means they eliminate the direct elections. It is sad because, Indonesia would likely back to Orde Baru (New Order Regime), where Regional House of Representative elect the leader without contributing people's voice. It is sad because as a faction who has the most numerous seats in House of Representative, Democrat was like throwing their weight in support by their walk-out action, so that the indirect regional election was passed into law. Susilo Bambang Yudhoyono as a President and a leader of that party did not do anything to respond the result. The law is like stealing the rights of people and he just stood there. By then, the public made a shame of him by made a hashtags #ShameOnYouSBY on twitter that lasted for more than 10 hours in Trending Topic WorldWide, recalled that SBY himself was the first elected President of Indonesia. He can be said betrayed his people. By Regional House of Representation elected the leader, there will possibly come another corrupts and moroners who leads the region of Indonesia (morons will choose their morons friends). Well, Indonesian Politic is a concrete absurdity. People power will smack their ass off, just see it soon. 

ANTARA Photo by Yudhi Mahatma

There is no one can answer, no one can make it true but God. God, the temporary name for the endless permanently.