Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thought. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Januari 2018

Susah Sinyal: Kalau Candaannya Nggak Seksis Memang Kenapa, Sih?

Menyambut tahun baru 2018, saya beserta dua adik kembar dan Mama hangout kecil-kecilan (?) di sebuah Mall di daerah Bekasi. Di tengah kumpulan keluarga lainnya, kami nonton Susah Sinyal di bioskop. 

sumber: Youtube
Waktu itu, bangku di ruang teaternya hampir terisi penuh dan rata-rata penontonnya adalah rombongan keluarga. Di samping saya saja, berderet tiga bocah SD dengan Ibunya dan Bapaknya di sisi terluar. Saya perhatikan, anak-anak itu sudah disiapkan macam-macam 'kebendaan' oleh orang tuanya, kayak selimut (selimut panjang yang muat bertiga), cemilan (yang diseludupkan, tentu saja, entah bagaimana caranya), freshcare green tea (saya familiar sebab punya juga), kaos kaki, dan minuman sirup jeruk (kebauannya hinggap di hidung saya).

Ketika film dimulai, saya agak-agak cemas. Selain adek-adek SD di samping tiba-tiba teriak kecil karena sempat menyangka akan nonton film horor (lampu perlahan kan dimatikeun tuh), saya punya 'tanggung jawab moral' juga untuk memastikan film ini bakalan lucu dan fun abessh, seperti yang diharapkan Kanjeng Mama Ibunda. 

Awal cerita dan alur film berjalan baik-baik saja. Saya mulai optimis filmnya bakalan bagus. Oh iya, film ini secara garis besar bercerita tentang hubungan ibu yang workaholic dan anak abg-nya yang masih bermandikan ego (naon). Adinia Wirasti  (Ellen) berperan jadi ibu penggila 'kerja kerja kerja', sementara yang jadi anak abg bermandi ego itu adalah Aurora Ribero (Kiara) artis baru yang blasteran.

Cocok lah ya, tema film dengan keadaan saya sekeluarga sebagai penonton. Ohya, Ernest Prakasa, komika elite itu, jadi penulis naskah dan sutradaranya. Penting diingat, nieh.

Di tengah cerita filmnya, Ellen dan Kiara memutuskan untuk liburan (di tengah-tengah masa sekolah dan kerja) ke Sumba, NTT untuk menciptakan bonding antara anak dan ibu yang selama ini anyep. Btw, kayaknya daerah Sumba memang sedang menjadi spot 'eskapis' favorit sineas Indonesia, ya? Ernest sendiri bilang, kalau pilihannya jatuh ke Sumba sebagai wadahnya berpromosi supaya Sumba terkenal dan jadi tempat wisata. Aheum, saya sudah agak-agak antisipasi dan antipati kalau-kalau ada colonial gaze berbalut eksotisma Sumba dalam adegannya. Dan ya, adegan itu ada, huhu. 

Nah, yang lainnya nih, yang saya wanti-wanti tak perlu ada, candaan mesum. Sudah tertawa ngakak dan menangis (dikit) di pertengahan film, saya jadi jijik dan males euy saat candaan nggak penting ini muncul. Sayang sekali, penokohan, alur, akting, dan cerita yang sudah rapi, top markotop, dan alami itu harus dirusak dengan jokes murahan yang menyerempet sexual innuendo alias mesum. Objeknya? tokoh penyanyi dangdut yang sedang liburan bersama dengan suaminya di penginapan Humba, tempat Ellen dan Kiara menginap. 

Ugh, saya salting. Soalnya nggak enak dengan Kanjeng Mama Ibunda dan adik-adik. Ini kan film keluarga, kok nganu?! Ohya, apa kabar dengan keluarga yang piknik di sebelahku ini? Hm, kegelapan bioskop tak bisa menjawab. 

Semangat sudah turun beberapa derajat saat kemesuman muncul. Seterusnya, saya jadi terganggu dengan jokes-jokes yang dilontarkan Arie Keriting dan Abdur Arsyad (habis garink, kak). Ironis sih, soalnya Arie Keriting ini, jadi semacam humor consultant dalam penggarapan film 'Susah Sinyal'. Entahlah. Padahal akting-akting dari komika lainnya (btw, ini film bertabur komika) seperti Dodit Mulyanto, Yusril Fahriza, Aci Resti, dan Ge Pamungkas, itu sudah bagus dan beneran lucu tanpa harus mesum. Lha, tapi konsultan kok humornya anyep gini? 

Saat film selesai, adek-adek saya dan Mama kelihatannya puas banget dengan filmnya. Mereka bilang, "seru, Mbakk!" Sementara tiga bocah SD di samping saya ternyata ketiduran sejak pertengahan film. Saya sendiri tetap merasa terhibur dengan filmnya, ada kesan yang ditinggalkan seperti, "AKU TAMBAH SAYANG MAMA!". Tapi ya tetap ada yang mengganjal karena jokes itu. Biarkan saja sebab saya adalah @difficultgirl69. 

Komika Indonesia Seksis?


Kenapa sih sepertinya kok le-bye banget gara-gara candaan mesum setitik jadi lemes? Kenapa? Karena saya jadi teringat seorang kenalan komika jebolan SUCI yang candaannya ngono. Dia nggak membawa tema mesum tiap manggung sih, tapi homofobik parah (ya mesum sih). Dia-yang-namanya-tak-perlu-disebutkan berkata di telinga aink kalau LGBTQIA itu nggak normal, menjijikan, dan dia 'merasa' punya 'power' buat share bahaya LGBTQIA lewat jokesnya. Astagfirullah!

Kalau diperhatikan, candaan-candaan komika Indonesia memang seksis, mesum, dan patriarkis. Ini pernah diamini juga sama Intan Paramaditha, penulis buku dan feminis, di akun twitternya beberapa waktu lalu. Lihat sajalah, pegiat awal Stand Up Comedy di Indonesia, Raditya Dika. Dia kerap melontarkan candaan seksis, yang bilang cewek tuh makhluk yang aneh, cewek menjajah cowok, frekuensinya pertemanannya berbeda dengan laki-laki, cewek tuh bego, dan lain-lain (good luck yang bakal jadi istrinya nanti).

Stereotip gender yang ngablu itu (berkembang jadi candaan jomblo vs pacaran yang juga norak), seakan dijadikan pola atau template buat komika-komika muda setelahnya sebagai bahan jokes dan terus direproduksi. 

Hm, Ernest dengan candaan mesum yang mengobjektifikasikan perempuan, kawan komikaku yang homofobik, dan Raditya Dika yang seksis, punya kekuatan simbolik, budaya, dan kultur, secara mereka adalah komika terkenal yang sudah banyak berkarya dan punya koneksi cihuy di industri hiburan dalam negeri. Banyak komika muda look up dan menganggap mereka 'panutan' untuk mulai berkarir atau belajar di ranah ini. Kekuatan mereka itu something.

Somehow (azeek), apa yang dibilang oleh kawan komika homofobikku tentang power tentu tak salah sama sekali. Justru agak berbahaya sebab dia sadar dan 'sengaja' menggunakannya untuk hal yang buruk. Ya, bagi saya memperparah stigma negatif soal kelompok LGBTQIA adalah hal buruk nan sia-sia mughallazah.

Komika terkenal sekelas Ernest, kawan homofobikku, dan Raditya Dika memang punya kekuatan untuk menyelipkan pemikiran dan asumsinya yang tabu, dianggap berbahaya, salah, dan berseberangan dengan norma-norma sosial lewat humor-humornya. Humor dapat melebarkan penerimaan terhadap ketabuan-ketabuan itu secara santai seolah tanpa ancaman. 

Sebetulnya, kalau pisau ini dipakai untuk meluaskan ketabuan untuk membicarakan korban-korban PKI, Tragedi 1998, kemiskinan di Indonesia Timur, ketimpangan sosial, dan lain-lain, akan jauh lebih berfaedah dan bermakna. Nah ini sebetulnya sudah dilakukan Ernest dan Abdur, mereka keren untuk tema itu. Tapi apapula, saat bicara dengan kawan homofobikku dia bilang "Ah, aku kan bukan mau mendydyk, tapi menghiboer," Hm, ok.

Humor Seksis Itu Berbahaya!


Candaan seksis yang datang dari Ernest dkk, hanya membuat mereka merasa bebas mengekpresikan antagonisme terhadap perempuan dan memberi sinyal jika mengekspresikan attitude seksis itu tak berbahaya, perlu dilakukan, bahkan menyenangkan! Tentu saja itu nggak bisa dibenarkan, boeng!

Semakin dianggap normal dan 'biasa-biasa saja' sebuah candaan seksis, maka perilaku misoginis juga akan dianggap lumrah dan kekerasan terhadap perempuan bisa jadi semakin tinggi. Di sebuah penelitian bahkan ada korelasi terhadap budaya menyalahkan korban dengan kasus perkosaan. Semua itu bermuara dari keberadaan candaan seksis yang menganggap mengobjektifikasi perempuan adalah hal yang menyenangkan dan lucu. Alih-alih dianggap sebagai hal yang kasar dan bertentangan dengan norma, candaan seksis malah dianggap hal yang ironis. Ew!

Candaan seksis jelas punya kontribusi dalam pelanggengan budaya kekerasan terhadap perempuan. Lihat saja gambar piramidanya di bawah ini. 


Akibat fatal dari sebuah candaan seksis dalam piramida di atas adalah pembunuhan dan perkosaan. Tapi bukan berarti sebelum adanya pembunuhan dan perkosaan, perlakuan kekerasan lain nggak dianggap berbahaya. Justru benih-benih kekerasan harus dihentikan saat candaan seksis menghadang.  (((menghadang)))

Intinya, dampak dari candaan yang seksis itu nggak lucu sama sekali, boeng!

Oh iya, kalau masih bingung bedain gimana candaan seksis, paling mudahnya melihat dari segala jenis candaan yang menggunakan perempuan sebagai objek untuk bahan tertawa. Nah, candaan mesum itu ya seksis sebab (pasti) selalu mengobjekkan perempuan di dalamnya. Ini juga berlaku untuk candaan homofobik yang menjadikan kelompok LGBTQIA sebagai objek tawa. Leave them alone!

"Ah Mel, kalo aink mah orangnya posmo siyh. Jadi ndak anggep teks skrip yang dibuat Ernest Prakarsa di Susah Sinyal itu seksis." 

Gini, bro (anjir, sok asik), teks dan wacana itu nggak hanya dibentuk, dia ada juga untuk mengontrol dan bahkan mendisiplinkan. Bukan aink yang ngomong, tapi Foucault, dewa Posmo tuh. Ernest dan dua partner pembuat skripnya, Jenny Jusuf dan Meira Anastasia, yang membuat candaan seksis dalam skrip film, membentuk dan mengontrol bagaimana perempuan seharusnya diobjekkan dalam film. Mereka bertiga mendefinisikan sebuah karakter perempuan yang layak jadi objek tawa dengan hal-hal mesum. Bagaimana bentukan perempuan yang pantas ditertawakan ala mereka? Yang seperti penyanyi dangdut itu, yang berkata dengan manja, "aduh, untung bukan ketumpahan susu, bisa lengket deh." Nope aint funny and yes the script also the writers are all sexists. 

Tanpa candaan mesum, film Susah Sinyal masih bisa lucu, memiliki pezan moral, seru, keren dan aman dinikmati oleh berbagai lapisan umur tanpa terancam salting. Saya sampai merasa bersalah dengan Kanjeng Mama, adik kembar, adik SD itu, dan bahkan keluarga di samping padahal syapa lu, mel, gara-gara kemesuman maksa itu.

Makanya saya jadi penasaran sendiri, memangnya kenapa sih kalau hanya sekali saja candaan yang seksis atau mesum tak dikeluarkan para komika?

Berhenti yuk membuat candaan seksis itu normal dan wajar, jangan sampai itu malah jadi norma. 

Saat Dangdut Melanda (Bukan Mengendorse Via Vallen Walau Dia Mirip Isyana Sarasvati)

Jadi ini salah satu tulisan (?) yang ada di buku The Book of Invisible Questions karyanya Lala Bohang. Pas awal membaca tulisan itu pertama kali, perasaan tuh biasa saja. Lempeng. Tapi ketika nggak sengaja membuka lagi di halaman tersebut, langsung berpikir, "edan, tunggu bentar, deh. Wew?"

Ceritanya 'diri' saling menguatkan tapi ndak mirip. Terus kok tangannya pengkor? Hm, anggap saja dia baru pulih setelah kram bermain karambol tapi tetap bersemangat menjaga dirinya sendiri ditemani bunga daisy penuh kepalsuan. Watercolor on paper. Copyleft 

Maklum, keadaan hati masih rawan terserang kedangdutan.

Tulisannya tersebut berjudul Can I be honest with you? Isinya adalah daripada seperti demikian;

You're the first thing I think about in the morning.Before I wake up, make my bed, and wash my face. I reminiscence about all the happiness and pain you gave me in one blink of an eye when it's over. After realizing the fact that I laugh and I cry at the same time, I am amazed by how much energy and emotion I spent on our roller coaster together. To arrive at nothing. 
Now I start watching Youtube channel about how to make a man fall in love and desire a woman.Just trying to find answers from the wrong sources, like always. 


Lala Bohang ini adalah ilustrator yang tinggal di Jakarta. Karya-karyanya ini memang punya style yang sureal, simbolik, minimalis, dan cenderung filosofikal (saya otoy). Saya sendiri mulai 'ngeh' dengan keberadaan bliyo di dunia, waktu masih aktif dan genit-genitnya membaca dan mengoleksi majalah Gadis di esempeh dulu. 

Waktu itu, di salah satu rubriknya, Gadis sempat membahas pekerja seni yang cihuy dari Indonesia. Nah, mbak Lala jadi salah satu kandidatyang dibahasnya. Saya ingat terus dengan profil dia mbcoz bliyo bikin karakter fiksi bernama Lula. Sebagey orang yang gemar mengobjekkan tokoh, saya pede saja merelasikan diri dengan Lula. Huh, padahal Lula galau (eksistensialis) meluluk (justru itu!).


Ieu tah bukuna. Diterbitkan oleh Gramedia
Kembali lagi ke tulisan. Bagian itu membuat saya mendapatkan momen 'dheg' sebab mengingatkan lagi sama hal dan rasa yang (sengaja dan berusaha) dilupakan. Kacau sudah benteng pertahanan ala Trump itu. Eh, enggak kacau-kacau juga, deng. Adek masih kuat, kug. Ya, tapi dalam beberapa detik, saya sempat berpikir bagaimana rasanya kalau berhenti merasakan apapun sama sekali? Sedetik saja. Habis, seringnya ia sangat menyiksa dan bisa datang tiba-tiba. Tanpa kata-kata!

Jangankan saya, yang apalah cuma kentut ikan sapu-sapu, ini, Seno Gumira Ajidarma sebetulnya juga pernah galau tentang 'rasa'. Dia bilang, "Apalah yang pasti dari perasaan manusia?" Ndak tahu, Mz. Rasa-rasa bahagia yang dibawa sebagian perasaan sudah kalah di medan pertempuran dengan ketidakpastian. 

Tapi, di detik selanjutnya saya mau terus memahami rasa cinta dan derita. Saya ingin hati diisi oleh harapan, cita-cita, ketakutan, putus asa, kebahagiaan, dan duka. Terutama dari mereka para manula kesepian di balik-balik tembok hingga harus menemui kadokushi-nya, isi kepala-kepala di jukai Aokigahara, pesan-pesan yang ditinggalkan para tapol '65 di tembok-tembok penjara, guratan urat-urat di tangan dan wajah Mama oleh senyum atau sedihnya. Saya mau terus memahami dan merasakan itu.

Akhirnya malam ini saya jadi tahu kenapa Via Vallen dibilang mirip dengan Isyana Saraswati. 

Jumat, 30 September 2016

Jadi Bahagia & Legowo Berawal dari Rak Buku

Saya punya koleksi buku yang nggak banyak, tapi dibilang sedikit juga tidak bisa. Semuanya koleksi saya sejak saya bisa membaca di umur lima atau enam tahun. Awalnya ada ensiklopedi hewan dan tumbuhan, manga, cerita nabi-nabi, buku RPUL maupun kumpulan bendera, bahkan sampai serial Petruk dan Gareng karya Tatang S.
Setidaknya, sampai setahun yang lalu, saya masih sangat protektif terhadap buku-buku. Mengelap, membersihkan dari debu, hingga menyusun dengan rapi di rak. Kemudian, gadget dan e-book datang. Kemampuan membaca menurun drastis semenjak mengenal benda bernama smartphone dan sosial media. Konten alternatif di internet juga membuat susah konsisten membaca teks di atas 35 halaman.
Saya panik, merasa satu-satunya kemampuan hilang. Kalau saya cantik bagai aurora borealis di langit Kutub Utara pada bulan September dan bisa bernyanyi seperti Isyana, persetan dengan Notes from the Underground, Les Mots, bahkan Das Kapital I. Lebih baik melakoni hidup dalam simulakra budaya pop dan dicintai manusia-manusia lain. 

Untuk menjaga supaya proses belajar tetap berlangsung, saya akhirnya mengoleksi e-book dan memaksakan diri membaca dari platform tersebut. Hingga puncaknya, saya memutuskan untuk menjual beberapa buku dari rak.

Sama sekali tidak mudah memang, apalagi buku-buku tersebut sudah lebih dari satu dekade menemani saya. Sudah ada emotional attachment yang terjalin dengan koleksi buku-buku tersebut. Namun, selain masalah finansial, buku-buku saya berhak mendapatkan perhatian lebih dari orang lain. Juga, Mengoleksi buku-buku membuat hidup rumit. Jika suatu hari saya pindah ke tempat yang sangat jauh, saya tidak mungkin membawa  semua buku-buku tersebut.

Terakhir, kecanduan membaca dan membeli buku ini tidak sehat dan merugikan saya secara finansial serta menghasilkan social detachment dengan orang di sekitar karena layaknya pembaca lain, membaca membutuhkan momen soliter. Kemudian saya tersadar, apakah saya membaca karena literasi itu keren atau 'beradab'? Sekedar mesin hasrat Deleuzian semata untuk orgasme intelektual dan modal sosial? atau seperti yang berkali-kali didengungkan Umberto Eco dalam anti-library, yaitu kesadaran terhadap apa yang tidak pernah kita ketahui justru dari tindakan menggali informasi dari buku? Maka dari itu, proses kelegowoan untuk meninggalkan buku harus dimulai dari sekarang.
Saya hanya ingin eling terhadap ilmu pengetahuan. Buku hanya fisikalitasnya, yang fisiknya sangat indah, tidak ada yang mengalahkan (bahkan dada bidang dan rahang Sean O'pry). Yang saya ingin cintai lebih jauh adalah ilmu dan dinamikanya. Bukan cuma sekedar buku. Oleh karena itu, ada wujudnya atau tidak mestinya tidak jadi masalah, bukan?

Terbukti, dengan merelakan beberapa buku untuk dijual, selain kondisi finansial yang jadi membaik, saya juga menjadi lebih bahagia karena membuat pencinta buku lain menemukan buku favoritnya dengan mudah dan harga yang murah. Di masa depan pun, jika hendak pindah ke tempat yang jauh, koleksi-koleksi buku ini tidak lagi membuat saya bingung. Ternyata, merelakan benda yang sudah sangat dekat dengan diri jatuh kepada pemilik baru, tidak selamanya berarti buruk. Sebaliknya, ada rasa 'kemenangan' ketika akhirnya saya bisa menundukan dan meredam kebiasaan impulsif membeli dan mengoleksi buku, sehingga diri menjadi jauh lebih tenang dan bahagia. 

Ilustrasi diunduh dari www.thenewyorker.com karya Sarah Mazzeti



Selasa, 08 Maret 2016

Harapan di Hari Perempuan Internasional 2016







Saya sejujurnya baru menyadari, bahwa tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Hari ini, dibandingkan dengan tanggal 21 April atau 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Kartini atau Hari Ibu di Indonesia, tidak begitu familiar oleh kebanyakan orang. Tapi sebagai perempuan, saya boleh berharap mengenai  beberapa hal dari masyarakat. 

Sebagai seorang perempuan, sangat wajar bila saya berharap keadilan gender dan praktik-praktik non-misoginis bisa lengser segera selamanya di Indonesia. Sangat wajar saya berharap jika siapapun bisa benar-benar berbuat baik dan beramah tamah, karena memang senang berteman dengan manusia, bukan karena dia punya dada yang besar, pinggul yang ranum, rambut yang indah, atau mata yang menarik. 

Saya berharap, perempuan di Indonesia tidak lagi terbuai oleh mimpi-mimpi pernikahan. Menganggap pernikahan sebagai satu-satunya batu loncatan, pencapaian dalam hidup, atau sebagai sumber kebahagiaan satu-satunya. Tidak ada yang salah dengan pernikahan, tetapi menganggap itu sebagai tujuan bahkan prestasi, adalah pandangan yang menyesatkan. Saya berharap, daripada terbuai oleh pernikahan, perempuan lebih memikirkan tentang bagaimana caranya ia membebaskan diri dan masyarakat kecil dari ketidakadilan dan penindasan, menuai ilmu dan pendidikan, bereksperimen dalam penemuan, atau belajar menstabilkan emosi dan psikologinya. 

Saya berharap, tidak ada lagi tulisan pop atau post-post viral media sosial yang mendaku islami, mengatur bagaimana perempuan seharusnya berpakaian, berjalan, bertingkah, bahkan berpikir. Alih-alih islami, justru dari situ pemeliharaan praktik patriarki nan misoginis dipelihara, disebarluaskan, bahkan dipatri dalam memori perempuan sebagai yang 'ideal'. Saya berharap masyarakat tidak lagi mengatur mana yang wajib dan haram (begitu pula, standar baik dan buruk) dilakukan oleh perempuan, lalu membalutnya dengan kain-kain dan atribut keagamaan. Sehingga, ia yang tidak terpapar pengetahuan, menganggap bahwa perempuan memang lahir dengan segala kain-kain atribut itu, dan menganggap semua memang wajar adanya. Yang sebetulnya pantas mengatur dirinya, adalah dia sendiri. Dia utuh, perempuan utuh dengan segala otoritas dan kedaulatan tubuhnya. Beragama tidak memaksa seseorang untuk menutup atau membuka tubuh, namun misoginis, ya. 

Saya berharap tidak akan ada lagi balasan, "Biasa aja kali", "nyantai aja, sih", dan ,"yaelah, lebay amat." dari laki-laki atau perempuan, oleh seseorang yang menyatakan ketidaksukaannya karena telah merasa dilecehkan. Memanggil dengan sebutan, sayang, cantik, bahenol, semok, montok, dengan salam, bersiul, dan memandang, tanpa consent (persetujuan), adalah bentuk pelecehan. Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika seseorang, menyebut itu penghinaan dan pelecehan, justru ia sadar akan keberadannya. Sebutan-sebutan bukanlah pujian, itu adalah bentuk seseorang yang tidak bisa menghargai manusia lain, menganggap yang lainnya hanya objek. Kamu tidak patut merasa spesial jika mendapat siulan di pinggir jalan. Sebaliknya, kamu harus minta mereka berhenti berlaku demikian. 

Saya berharap, perempuan Indonesia bebas dari segala romantisasi, bebas dari segala perilaku ingin dispesialkan dan dilayani karena merasa lemah tak berdaya, menyadari adanya patriarki, memahami dirinya ditindas, lalu berani melawan dan membela dirinya. Tidak hanya sibuk untuk menjadi terkenal, menjadi pemimpin trend, menjadi keren, atau menjadi faboulus, tetapi juga mempunyai kesadaran kritis. Berani mengembalikan lagi narasi tubuhnya di ruang publik, termasuk di internet. Tidak ikut menjadi agen patriarki, karena kamu pun sebenarnya adalah korban juga, yang paling parah pula. Jadilah cerdas memahami keadaan sosial dan politik masyarakat dan diri sendiri, jadi diri tidak hanya terampil memilih filter instagram atau memilih warna lipstik. 



Sekedar berharap tentu boleh saja, bukan?  Selamat Hari Perempuan Internasional. 

Minggu, 21 Februari 2016

LGBTQIA di Indonesia Lagi, Kapan Gajianku?

Semakin hari, topik pembahasan mengenai LGBT semakin marak. Di media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Line, dan lain-lain, orang-orang berlomba-lomba membagi berita atau menyerukan pendapatnya. Dan seperti yang sudah di dalam kandungan bisa kita tebak, poros ini terbagi dalam pro dan kontra.

Haruskah kita mengambil posisi untuk menyatakan sikap kita terhadap pemberitaan LGBT ini? Saya pernah menulis di post terdahulu kalau topik ini tidak terlalu penting menurut saya, karena saya tidak memandang adanya perbedaan yang berarti dari LGBT ini dengan saya sebagai hetero dalam hal mencintai. Tetapi, melihat banyaknya fitnah dan kedunguan tak berujung, saya pikir kita bisa membantu meluruskan atau setidaknya mengurangi polusi berita-berita yang beredar. Menolak segala bentuk penindasan yang dilakukan terhadap minoritas itu harus selalu dilakukan. Kali ini saya ingin membahas baik dari respon masyarakat serta apa yang mendasarinya mengenai LGBT. 

gambar didapat dari jflag.org


Karena saya lumayan aktif bermain Facebook, saya cukup familiar dengan status-status mayoritas teman yang bersuara mengenai LGBT ini. Tema ini menyeruak hangat dibicarakan tidak hanya di media sosial tetapi juga pertelevisian. Menurut saya, sejak kasus SGRC UI beberapa waktu lalu, isu LGBT perlahan tapi pasti ramai dibicarakan. Mayoritas dari mereka membuat bingkai berita yang menjatuhkan, seperti menyebut kelompok LGBT adalah sekte seks (I laughed my lungs out when I read this term), kegiatan yang haram, harus diperangi, disuruh untuk bertaubat dan disembuhkan, dan lain-lain. Tetapi sebenarnya, dari beberapa pernyataan, kita bisa lihat bahwa bentuk penerimaan dan penolakan masyarakat terhadap isu LGBT ini juga beragam. Ada yang sama sekali menolak dengan memakai dalih agama, ada yang menerima dan mengharuskan LGBT ini bertaubat dan disembuhan, ada yang menerima tetapi menolak mendukung legalitas perkawinan LGBT karena dalam agama apapun tidak ada sejarahnya, dan ada yang menerima secara pergaulan sosial. 

Benang merah paling jelas yang menghubungkan semuanya ada di dalih agama yang dipakai. Baik masyarakat menengah atas ataupun bawah, memakai dalih agama sebagai cara berpikir rasional ketika dihadapkan dengan isu LGBT ini. Walaupun datang dari kelas yang berbeda, namun mereka memiliki dasar pegangan yang sama. Nah, terlepas dari beragam berbagai ekspresi menolak, saya menemukan lagi pertanyaan dari kaum yang anti LGBT ini. Mereka mempertanyakan perlakuan diskriminasi seperti apa yang dihadapi oleh LGBT. Contohnya ada di post Facebook satu ini. Sekali lagi, simbol yang berhubungan dengan agama dipakai sebagai perbandingan. Penulisnya membedakan diskriminasi yang terjadi terhadap muslimah yang berhijab tertutup, lalu mempertanyakan apa beban yang sudah dialami oleh LGBT. Mungkin si penulis belum pernah membaca atau menemukan Berita banyaknya pembunuhan yang terjadi pada LGBT. Diskriminasi yang dialami datang, yang satu karena memakai simbol yang bisa langsung terlihat sedangkan yang lain tidak. Tetapi, yang saya pelajari lagi (terlepas benar tidaknya tulisan yang dibagi oleh penulis di Facebook ttg hal itu), ternyata walaupun sama-sama tertindas, tidak lantas membuat orang menjadi memahami penindasan yang dialami oleh orang lain. Sehingga alih-alih mendukung, malah membandingkan penindasan mana yang paling parah diterima oleh suatu pihak. Seakan-akan menunjukan perangai 'aku-yang-lebih-menderita' atau playing victim.

Nah, saya tidak akan menangkis pandangan tersebut dengan argumen lain. Saya mau membahas dalih yang mendasari argumen para anti LGBT ini, yakni mayoritas agama. Kita juga tahu, bahwa dalam agama apapun LGBT ini diharamkan oleh agama. Tetapi tunggu dulu, apa yang diharamkan? orangnya kah? perilaku seksualnya kah? atau afeksi yang dilakukannya kah? Coba buka tautan ini untuk lebih jelasnya. Lewat fiqih atau hukum islam, LGBT dipandang secara konservatif. Sejauh ini yang dilarang merupakan liwath' atau aktivitas bersenggama yang dilakukan oleh pasangan gay. Karena memang secara kesehatan kegiatan dengan cara demikian akan membawa banyak penyakit dan kuman. Tetapi, sebenarnya, kegiatan seks dengan cara demikian tidak hanya dilakukan oleh pasangan gay saja. Hetero juga banyak yang melakukannya. Jadi sebenarnya, pesan yang turun ini tidak hanya berada dalam konteks diturunkan untuk kaum gay, namun sebagai peringatan kepada siapapun yang menganut orientasi seksual apapun untuk tidak melakukan kegiatan seks secara anal. Nah, apakah kamu bisa mencintai tanpa mengaharpkan seks? Itu persoalan lain, ya. Dan yang lainnya, karena pernikahan sejenis tidak diperbolehkan, maka kegiatan seksual mereka dinilai sebagai zina. Yah, ini juga berlaku pada yang hetero, kan. Kalau belum terikat pernikahan maka kegiatan seksual yang dilakukan (baik homoseks atau heteroseks) adalah zina. Lalu, bagaimana menyingkapi kaum LGBT? ah, repot sekali, terima saja mereka. Kenapa harus repot memikirkan hidup orang lain? Kenapa pula harus takut? Saya kenal dengan seorang gay yang relijius, ia memilih single dan mengadopsi anak perempuan. Sekarang ia bahagia menjadi single father. Thats it. Dia masih beribadah ke gereja dan berdoa, keluarga menerima. 

Dalil agama yang menjadi pegangan para anti-LGBT bisa kita lihat dalam kacamata politis, lho. Isu LGBT ini seakan pas mengisi kekosongan masyarakat dalam hal mencari 'musuh bersama'. Setelah kubu Prabowo dan Jokowi mulai lenyap secara perlahan, isu LGBT seakan menjadi kapal baru untuk ditumpangi. Pemahaman masyarakat terhadap isu ini juga sangat rendah, mereka kebanyakan tidak mengenal perbedaan orientasi seksual dan penyimpangan seksual. Ketika dihadapkan oleh suau fakta, tidak akan diterima dan coba untuk diolah sama sekali. Mereka hanya mau membaca atau menerima hal yang sama dengan apa yang dipercayai. Tidak akan ada perkembangan. Terlebih ketika pemerintah ikut bermain di dalamnya, media pun ikut serta. Seolah, isu LGBT ini memang mempersatukan kita antar-ras, agama, budaya, sistem ekonomi dan lain-lain. Persis ketika zaman dahulu, ketika isu Cina, Asing, Komunis, didengungkan untuk membakar emosi untuk menyerang 'musuh bersama'. Setelah tidak lagi ampuh, maka LGBT kini menempati topik. Seperti yang Tom Bellstroff pernah bilang, isu anti-LGBT di Indonesia merupakan suatu petunjuk bahwa ideologi militeristik, fasisme, maskulinitas, dan patriarki mulai terancam. Jadi, walaupun benci setengah mati untuk mengakuinya, kita bisa bilang bahwa negeri kita masih kuat memegang ideologi demikian. 

Jadi, apa yang sebenarnya mau saya bahas? hahaha. Well, saya ingin melihat isu LGBT ini dari sudut pandang ketiga. Saya ingin tahu mengapa masyarakat begitu intens menaruh perhatian terhadap masalah ini. Karena, ini adalah isu kelas menengah, di mana mereka terpapar oleh pemberitaan dari media luar negeri tentang pernikahan sejenis. Baik anti LGBT dan pro LGBT akhirnya bereaksi sehingga akhirnya meluas, ditambah dengan permasalahan yang pernah menimpa SGRC UI beberapa waktu yang lalu. Saya hanya ingin menambahkan, bahwa dalih agama yang menjadi pegangan paa anti LGBT ini pada akhirnya jauh dari kata toleransi. Seruan kebencian diperlihatkan dan mendapat dukungan. Ini bisa jadi menunjukan bahwa krisis kepercayaan terhadap sebuah rezim (dalam hal ini, pemerintahan Jokowi) sudah merosot, sehingga akhirnya para konservatif mencari kembali 'musuh bersama' untuk kembali bersatu. 

Akhir kata saya berdoa agar kita senantiasa dijauhkan dari segala bentuk kedunguan, kesempitan hati dan pikiran, amin. 

ucla.org












Senin, 11 Januari 2016

Gaul dan Kurang Digauli

Saya selalu senyum sendiri kalau dibilang nggak gaul. Saya cuma punya beberapa pasang baju yang dibeli dari toko baju bekas pula. Sepatu hanya dua, dan diganti jika yang lain sedang dicuci. Begitu pula dengan jeans. Saya juga baru menyadari bahwa 65% warna pakaian yang saya punya di lemari berwarna hitam, karena saya pikir hitam akan selalu cocok dalam keadaan apapaun. Tak lekang oleh waktu, begitu saya pikir. 

Tapi, ternyata saya tetaplah dibilang ketinggalan jaman, hahaha. Jangan salah, saya pemerhati fashion sejak saya SMP dulu. Saya langganan majalah yang hits pada waktu itu seperti Gadis, dan Kawanku (Bobo juga masih, tapi nggak ada pembahasan tentang fashion di sana). Ketika sudah memasuki dunia kuliah, dan melihat-lihat koleksi majalah itu, saya bergidik. "nggak nyangka, dulu pernah tertarik gini-ginian."

Kembali lagi dengan istilah gaul, memangnya gaul itu apa, sih? Menurut KBBI, kata gaul adalah kata kerja yang merujuk pada kegiatan berteman atau bersahabat. Nah, lho, kok nggak ada hubungannya sama yang sudah dipaparkan? Makna kata gaul sendiri ternyata bergeser kepada penyebutan keren. Gaul ternyata berubah menjadi istilah untuk menunjukan suatu gaya hidup atau budaya. Padahal makna kata kerjanya merujuk pada aktivitas sosial berteman dan bersahabat. Mungkin dari sana lahirnya pengertian bahwa, orang gaul temannya banyak.

Kita lanjutkan gaul dalam konteks pengertian gaya hidup, yuk. Agar kamu dapat teman banyak dan diterima dalam pergaulan, maka harus ada kesamaan gaya hidup, atau kesamaan sistem yang dianut. Itu basic rule dalam langkah awal menjalin pertemanan. Kenapa sih, saya dianggap nggak gaul? anggapan itu tidak datang dari jumlah teman yang saya punya, tapi memang menyiratkan gaya berpakaian dalam keseharian saya. Juga, pernyataan itu datang dari kurang update-nya saya dengan trend masa kini, seperti musik, film, kosmetik, fashion, dan lain-lain. Saya hanya tahu, tapi tidak mengikuti konsumsi itu. Kenapa? karena saya tidak suka. Kalau boleh jujur, bahkan saya berhenti untuk mengkonsumsi segala hal yang dikatakan sedang menjadi trend. Biarlah menjadi pengetahuan semata, tetapi saya tidak akan mau didikte dan memperkaya pihak-pihak yang diuntungkan dari suatu trend itu (pastinya korporat yang punya andil besar). Segala bentuk pembicaraan yang sedang trend di media sosial sudah dikendalikan oleh pemilik modal, yakni korporat. Media-media besar yang ada di media sosial, merupakan perpanjangan tangan korporat. Sehingga apapun yang disajikan sudah dirancang sedemikaian rupa. Glorifikasi gojek, toko online, lari marathon, olahraga di tempat fitness-nya selebriti, travel ke sana-sini, makanan yang lagi tren, kopi yang lagi tren, dan lain-lain adalah salah satu bentuk bagaimana sosial media menjadi lahan paling potensial untuk menjerat daging-daging konsumtif. Percayalah, ada saja yang rela melakukan apapun, apapun untuk mendapat status gaul dan kekinian, dengan menjadi konsumtif. Apa yang bermanfaat dari pertemanan yang dijalin karena konsumerisme??



Saya kok sedih sendiri, ya. Membayangkan sebuah jalinan pertemanan yang lahir karena hanya seseorang mampu mengkonsumsi barang tertentu? Kalau ternyata untuk menjadi gaul harus seperti itu, saya lebih baik cupu saja seumur hidup. Tidak akan berfaedah berteman dengan cara begitu. Tetapi, setiap orang berhak memilih siapa yang bisa dijadikan temannya. Kamu bisa memilih mana yang gaul untuk jadi temanmu, begitu pula saya. Asal sama-sama menganut suatu kesamaan tertentu.

Daripada membicarakan baju terbaru keluaran merk desainer ternama, saya lebih senang membahas bagaimana proses produksi di belakangnya. Tangan-tangan seperti apa yang menjahit baju sedemikian banyak, dan lain-lain. Seperti di bawah ini contohnya:



Di balik baju-baju indah dan bagaimana fashion bekerja, ada buruh-buruh mati, orang-orang yang depresi, keterbelakangan mental yang melanda suatu daerah, dan lain-lainnya. Atau di bawah sini untuk tahu bagaimana makanan-makanan hits gaul terkini diproduksi.




Jika kamu tidak bisa menghentikan kebiasaan konsumtif itu, at least do yourself a favor to be informed.




Kamis, 31 Desember 2015

Tahun Baruan si Cupu

Beberapa jam menuju tahun yang baru, yeay! #NYE #Holiday

Terompet-terompet sudah dibunyikan, rencana-rencana liburan dijalankan, yang masih bekerja akan pulang di hari siang atau masih harus menuntaskan sampai petang. Semuanya demi menyambut tahun yang baru datang.

Dari dulu, saya tidak pernah menemukan rasa girang untuk menyambut tahun baru. Yah, ini memang dasarnya saya adalah orang yang kurang asyik, sih. Hehe. Hanya sesekali saja saya ikut acara pesta pergantian akhir tahun, dan aktivitasnya akan selalu sama di mana pun acara itu berada (Barbeque--menonton film--bermain petasan/kembang api--mengobrol). Ya, kurang lebih seperti itu, intinya begadang menanti tahun baru. 

Terlepas dari hal itu, ada satu hal yang pasti selalu saya lakukan. Dan mungkin, beberapa orang juga melakukan hal ini, yaitu berkontemplasi. Bukannya bersikap sok deep, thoughtfull, and all, kebiasaan ini sudah dilakukan sejak SD dan berjalan hingga SMA. Membuat beberapa list dalam beberapa kategori versi saya sendiri, seperti kategori pengalaman terbaik, orang yang menyebalkan, prestasi terbaik, tokoh terbaik, dan lain-lain. Dari sana saya bisa mengeker kehidupan selama setahun saya dalam versi cepat. Saya bisa kembali mengingat kejadian-kejadian penting untuk saya dalam setahun terakhir, dan menjadikannya pembelajaran. Saya melakukan hal tersebut karena terinspirasi oleh Ustadz AA Gym, yang dalam salah satu ceramahnya bercerita bahwa beliau mempunyai catatan pribadi seperti itu. Dan saya membuatnya dengan versi saya, hehe. 

Beranjak tua, saya tidak membuat catatan dengan gaya seperti itu lagi. Tidak ada lagi kategor-kategori tertentu untuk jadi pemenang versi saya. Mungkin sedikit banyak, hal itu berimbas kepada semakin minimnya produktifitas. Namun yang jelas, tahun 2015 adalah tahun yang sudah saya tebak bagaimana perjalanannya. Tahun yang berat, kalau boleh saya katakan. Menghadapi skripsi, berjibaku dengan diri sendiri, membanting tulang mendapatkan uang, kembali berhadapan dengan diri sendiri, menyaksikan lagi kematian orang tercinta, bekerja, bersentuhan dengan logika kapitalisme, hingga bertahan untuk tidak tergerus oleh zaman yang dangkal ini. Ah, saya pun. 

Saya ingat mengawali tahun 2015 dengan kesunyian dari Kota Jember. Tidak ada perayaan heboh (keluarga saya di Jember sangat strict dengan aktivitas non-islami seperti itu). Saya pun hanya menghabiskan malam dengan membaca Baudrillard, berdampingan dengan nenek saya, yang sekarang sudah tiada. Saya habiskan awal tahun dengan memanjat pohon dan mengunjungi Alm. Ayah di makamnya. 

Di pertengahan 2015, hidup saya terkuras pada proses pembuatan skripsi. Jika diperbolehkan, ingin sekali rasanya saya memperbaiki banyak hal, bahkan mengulang sidang. Karena materi skripsi tidak didiskusikan dan dipersiapkan dengan matang. Saya terburu-buru dengan deadline dan hambatan mental sedang sering sekali datang di pertengahan tahun ini. Sekali lagi, ngomong apa kamu, Badrun?
Wisuda di bulan Agustus 2015
Menghadapi wisuda, saya juga dihadapkan dengan kewajiban untuk mencari kerja. Karena biaya untuk wisuda bagi saya cukup besar, dan beasiswa saya tidak cukup untuk menutupi semuanya. Jadilah, di bulan Ramadhan saya bekerja di perusahaan start-up retail yang mendengungkan diri mereka sebagai The First Islamic Shopping Center. Bekerja di sana, membuka mata saya bahwa Islamisasi memang sedang menggelombang di Indonesia. Sebagai dampak dari runtuhnya Orba dan kenaikan GDP sebesar 10%, kalangan menengah mencoba untuk mengikuti trend jaman tanpa meninggalkan akidah agama mereka. Jadilah kaum hijabers bertebaran di mana-mana. Konsep hijab gaul yang memang sedang in adalah contoh paling nyata dimana konsumerisme dan kapitalisme menggerogoti gaya hidup kaum muda muslimah berjilbab. Dian Pelangi yang didaulat sebagai fashionista paling berpengaruh (doi sejajar sama G-Dragon, fyi) versi Business of Fashion 2015 (#BOF500) merupakan gong-nya menurut saya. Yah, sebagaimana industri fashion yang memang lekat logika kapitalisme dengan menjual kesementaraan gaya dan desain, masuknya mbak Dian sebenarnya bisa ditebak dan gak aneh, toh. Dia yang mempopulerkan gaya tersebut di Indonesia, sehingga yang lain mengikuti jejaknya. Saya juga nggak akan kaget jika di masa depan nanti, merk-merk fashion yang sudah mendunia, akan menyediakan ruang dan kategori khusus untuk jenis busana muslimah ini, karena dahsyatnya dampak islamisasi.

Bersama rekan di HijUp.com
Keadaan commuter line ke Pasar Minggu
Menikmati hidup dua bulan tanpa pekerjaan adalah waktu-waktu yang dirindukan. Saya bisa keluar jam 2 pagi mengelilingi Kota dan melihat kehidupan manusia di waktu subuh. Memperhatikan manusia yang masih bekerja, terjaga di sisi-sisi pencakar langit Sudirman dan Thamrin. Mengunjungi Taman Menteng dan masih ada si menengah yang membawa jalan-jalan anjingnya di malam larut. Melukis pohon di samping gerobak sate ayam, lalu berakhir dengan flu dan badan meriang. Ah, betapa rindu menjadi manusia seperti itu.


Menteng, persis di depan Taman Menteng
Museum Fatahilah pada pukul 02.00 pagi




Sekarang saya sudah berada di tangan perusahaan startup lain yang sedang dalam proses berubah menjadi industri korporat sejati. Pola pergerakan e-commerce memang hampir serupa. Mereka membuat banyak data dan pengguna untuk menarik investor. Jika investor datang, punggawa terdahulu akan keluar (karena memang itu bisnis coba-coba nak baru lulus kuliah/ ideologi bersebrangan dengan penginvestor/ hendak menciptakan bisnis baru yang jauh lebih stabil), dan pasti akan selalu berbasis pada monetization. Hal lain yang saya pelajari adalah, sebenarnya akan jauh lebih baik (mungkin) jika ada badan yang secara khusus memperhatikan pertumbuhan perusahaan baru berbasis online ini. Amerika punya Silicon Valley untuk mendukung pertumbuhan sejenis, website seperti Facebook, Twitter, Lazada (Wazada), dan lain-lain, adalah contohnya. Mereka bisa berkembang karena dapat investor yang membiayai perusahaan online mereka, contoh perusahaan investor loyal terbesar adalah Rocket Internet, Schibsteb, Napsters, yang membiayai Lazada dan uhuk, OLX. Jika di Indonesia ada tubuh semacam Silicon Valley, para pengusaha muda kita tidak perlu harus mengorbankan sustanaibility demi mengejar investor dari tanah suci Silicon Valley. Andai dibangun badan yang khusus mengatur sistem pertumbuhan perusahaan online semacam itu untuk mewadahi proses produktifitas yang coba dibuat, jadi kita tidak hanya mengambil peran sebagai konsumen saja. Tidak ada hal yang salah dengan monetization, justru itu adalah tujuan tiap pengusaha mendirikan usahanya, mendapatkan uang, toh. Tetapi, bagaimana jika proses itu diselaeaskan dengan kesadaran sosial pula? Jadi, semua inovasi yang telah diciptakan tidak hanya dirasakan oleh segelintir masyarakat tertentu, tetapi bisa merata. Dan yang paling penting adalah, walaupun memang tujuannyauntuk mendapatkan keuntungan, bukan berarti hanya selalu harus profit dan keuntungan yang hanya dipikirkan. Sayang sekali, saya lugu bahwa memang sistem kerja ekonomi kapitalisme memang seperti itu.

Ah, siapa pun bisa mimpi, bahkan yang paling ndak logis dan dungu sekalipun. Maafkan.

 Adib Hidayat 
Suasana di kantor baru
Well, paling tidak sudah ada seorang manusia mempu menahan dirinya untuk bersama saya. Setidaknya, itu membuat hal yang lain terasa lebih baik. Saya senang. Masih banyak hal yang harus dipelajari, dibaca, ditulis, lalu dibagikan. Hal yang harus diperbaiki juga masih pula banyak, terutama masalah berkomunikasi dengan beberapa handai taulan. Apapun itu, semoga dengan peluh yang dijatuhkan karena bekerja untuk diri sendiri maupun yang tercinta, tidak akan membuat kita ditinggal kesepian di hari tua. Amin

Selamat Tahun Baru 2016. Yasudah, yuk lanjutkan kembali hidup kalian. 








Jumat, 27 November 2015

"Kita Semua Buruh!" Membicarakan Buruh Setelah Gajian Pertama Kali

Saya gak akan membahas teori a, b, c mengenai ekonomi. Apalagi membahas mengenai beberapa prediksi mengenai ketahan perekonomian NKRI terkait peraturan perundangan PP no 78 mengenai buruh. Fokus saya di sini ingin memberi alteratif pandangan lain mengenai demo buruh yang terjadi pada tanggal 24-27 November 2015. 



Bisa jadi, pandangan saya ini juga bersinggungan dengan pengalaman bahwa saya dan dua adik kembar saya bekerja sebagai buruh. Saya hanya tidak habis pikir dengan sekelompok manusia yang memaki dan mengecilkan usaha buruh melalui demo dan perjuangan selama tiga hari ini. Bahkan lucu dan bodohnya, saya menemukan sesama buruh menyinyir perjuangan teman-temannya untuk turun ke jalan. Apakah mereka tidak tahu mereka itu juga buruh? Tapi sebenarnya, apa sih pengertian buruh itu?

Menurut wikipedia, buruh adalah tenaga kerja, karyawan atau pekerja berupa manusia yang mengguakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan, baik berupa uang maupun bentuk lainnya dari pemberi kerja, pengusaha, atau pun majikan. 

Intinya adalah, selama Anda tidak memiliki dan menguasai alat produksi sendiri, dan menerima upah dari tenaga yang dikeluarkan, maka Anda adalah buruh. Anda yang bekerja di perusahaan mulitansional dan gedung-gedung pencakar langit Jakarta, jika Anda demikian, maka Anda juga buruh. Anda hanya memakai baju berkerah, berkancing, bergincu, dan berpantofel saja. Kita semua buruh.

Aksi buruh dari tanggal 24-27 November kemarin adalah untuk menuntut dicabutnya Peraturan Pemerintah Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Peraturan tersebut dinilai tidak adil, karena perwakilan buruh tidak dihadirkan dalam pembahasan tersebut. Yang terlibat hanya perwakilan dari pengusaha dan pemerintah (biasanya yang hadir adalah bupati atau walikota), sedangkan perwakilan dari buruh tidak dihadirkan sama sekali. Peraturan ini juga mengancam UMR yang selama ini sudah  berlaku di beberapa kota, bahkan ada kemungkinan untuk turun. UMR akan dipukul rata senilai Rp. 2.050.000,-.

Tentu saja hal tersebut bermasalah, karena kebutuhan dasar di tiap daerah akan berbeda nominalnya. Kenapa UMR sebesar (kira-kira) Rp. 2.000.000-an di daerah Surabaya sudah cukup karena memang nilai itu sudah cukup untuk kebutuhan di Surabaya, dan tentunya akan berbeda di kota lain. Ini penjelasan lebih lanjut mengenai demo buruh 24-27 November

Selebih itu, kita harus malu karena tanpa harus berpanas-panasan di jalan dan berdemo, kita sudah bisa menikmati perjuangan mereka. Kebijakan seperti UMR, fasilitas kantor, cuti, cuti hamil, cuti haid, 8 jam kerja, THR, dan hari libur nasional bisa didapatkan karena usaha mereka turun ke jalanan. Hal-hal yang kamu nikmati berkat perjuangan teman buruh yang lain

Masihkah kamu merasa tidak mau disamakan oleh buruh? 

Adalah hal yang sangat menyedihkan bila kamu tidak peduli dengan perjuangan mereka, terlebih lagi jika kamu malah menyindir karena macet yang harus kamu lalui. Kamu harus ingat bahwa ketika kamu menyinyir mereka dari dalam kantor tinggi yang nyaman, kamu turut menikmati pula perjuangan mereka. 


B

Kamis, 05 November 2015

Marketing, Sayang Anak, dan Biskuit Basi

Sejak beberapa hari lalu, saya harus mulai mengubah kebiasaan untuk bangun pagi. Bersiap-siap, lalu pergi berdesakan di bawah naungan ketek para buruh perusahaan di kopaja atau kereta. Menghabiskan waktu lima jam di perjalanan membuat saya sering berpikir tentang kesia-siaan. Dalam lima jam, saya bisa membuat setidaknya satu lukisan jadi secara utuh, membaca beberapa ratus halaman, atau setidaknya menghapal lirik lagu-lagu Big Bang yang baru-itu tidur. Tapi yang terjadi hanya berdiri terpekur melihat kemacetan berkilo-kilo meter dan curi-curi pandang obrolan orang lain di aplikasi messanger-nya. Ya, saya se-creepy itu.

Menghadapi pekerjaan baru ada keasyikan tersendiri. Saya suka dengan apa yang dikerjakan. Namun, di sisi lain, saya menyadari satu hal. Suka menulis dan membuat tulisan menarik adalah dua hal yang sangat berbeza. Tapi kali ini, saya mau membahas ranah marketing yang saya hadapi, bukan soal saya becus nulis atau enggak, tapi analisa ompong tentang konsumerime. Jadi, tolong dipisahkan saja, ehem. 

Di marketing, suka atau enggak, kita harus mengajak orang lain untuk menjadi konsumtif. Jaya Suprana pernah mengatakan bahwa ilmu marketing mengembangkan pengertian konsumen menjadi pembeli produk, jika orang tersebut berkali-kali menggunakan atau mengkonsumsi produk atau jasa tertentu, berarti dia adalah pelanggan (customer). Jadi dalam marketing, ada pembeli, pelanggan, dan penjual.

Menariknya lagi, selain tiga kategori di atas, ada lagi istilah, yang disebut oleh Jaya Suprana dengan konsum-teroris. Konsum-teroris ini adalah golongan homo-economicus yang belum tentu seorang, pembeli, pelanggan, atau penjual. Tapi, sosok informal-nya sangat sangat vital. Konsum-teror ini bergerak secara gerilya dalam sepak terjang konsumtif. Golongan ini dipegang oleh kaum yang sering dianggap sepele, yaitu anak-anak! Kita bisa lihat berbagai iklan dari produk atau jasa tertentu yan memakai anak-anak di dalamnya. Dari otomotif, sandang, pangan, papan, obat-obatan, kosmetik, sampai iklan pariwisata pasti ada anak-anak.


Iklan mobil Evalia (credit to:www.nissanbarupromo.com)

Konsep iklan yang bagus memang harus menyentuh target secara emosional, lalu direlasikan secara paksa oleh logika. Dalam strategi pemasaran, rasa bersalah merupakan konsep ampuh untuk membidik sasaran pembeli maupun calon pelanggan. Kembali lagi ke iklan, jika kita lihat iklan mobil terbaru, pasti kita mendapati ada anak-anak di sana. Anak-anak tertawa riang, tidur pulas, atau bercanda gurau di dalam mobil yang lapang dan nyaman. Mobil atau otomotif yang sudah jelas sasaran pembelinya bukan anak-anak, malah semarak membuat iklan seperti itu. Iklan itu dibuat apalagi kalau bukan untuk berkata, "Ayo, beli mobil ini untuk anak-anak Anda!", dan pada akhirnya, pemasar akan menteror nurani konsumtif orang tua dan melahirkan rasa 'bersalah'. Rasa 'bersalah' inilah mengahdirkan rasa dosa orangtua jika mereka tidak berhasil mengabulkan permintaan apapun dari anak-anaknya. Hal ini tidak hanya terjadi pada produk otomotif, tapi juga produk atau jasa lain.

Ini juga adalah buah analisis yang sangat disederhanakan. Maaf ya, memang tujuan saya dari awal adalah berbagi ide saja hehe. Tapi, dengan mudahnya orangtua mengabulkan permintaan anak-anaknya yang tidak relevan atau bahkan tidak perlu, akan melahirkan pula generasi konsumtif liar. Pengaruh anak-anak ini sangat kompleks, karena perilaku orangtua secara tidak langsung juga melanggengkan konsum-teror. Ya, memang, sih, perilaku konsumtif itu adalah bagian hakiki dari mekanisme pasar. Jika tidak ada perilaku konsumtif, semua perilaku produktif akan bertepuk sebelah tangan. Tidak akan ada produsen yang mampu bertahan tanpa adanya konsumen.Tapi, segala hal yang berlebihan juga tidak baik. Sikap konsumtif berlebihan, ngawur, enggak sadar realita akan kebutuhan dan manfaat produk, akan menjadi ancaman bagi kesejahteraan individu atau masyarakat.

Yang saya amati dari pengalaman cetek ini, perilaku konsumtif adalah perilaku sosial. Perilaku sosial adalah tanggung jawab dari budi pekerti. Anak-anak harus dididik dan dibina untuk berperilaku konsumtif secara terkendali secara mental, yakni sadar atas kebutuhan secara tepat! Tidak cuma anak-anak, kita juga harus mulai mampu melepaskan diri dari belenggu perilaku sok-gengsi. Sok-gengsi itu pupuk penyubur perilaku konsumtif !!!

Begitulah sekelumit analisis saya mengenai pembudidayaan sikap konsumtif. Jika tepat lahan, pupuk, dan musimnya, niscaya, pribadi kritis, selektif, waspada, dan bijaksana akan berkembang. Sekian, saya harus keluar membeli diapet sebelum warung tutup  segera tidur. 






Senin, 27 April 2015

Mary Jane

   I clearly remember how I cheerfully supported Jokowi last year. Also, how I admired him as a person still lingers until now. I did feel happy and moved about his winning on presidential election for I have told all my beloved ones to choose him. I still hold my reason on why did I choose him, why not the other one? The reason is, therefore, his concern on human rights issue in Indonesia.

  Months passed, his works is being viewed. Nothing much happens on Indonesia in his's. Honestly, I become more and more skeptical seeing Indonesian political matters. More and more depressed whenever read anything that correlates to governmental policies. I always whisper to myself, "where the fuck are you, Jokowi?"  

  The exact same matter occurs also when I see many the use of the death penalty against foreign citizens to fight drug trafficking. Nope, no. I can not just be skeptical, it rushes me to tears. After Bali Nine, this very time, Indonesia is about to execute Mary Jane on 29/04/2015. The execution of Mary Jane once again will not improve or even make our sustainability towards drugs trafficking in Indonesia gets better. Otherwise, it will depict clearly that we are that lazy to do deep research about her case. Mary Jane is not a perpetrator, she is a victim of international narcotic mafia's massive crime.  

   Where are you now, Mr Jokowi? will you listen to us? will you react on rejection of Mary Jane's execution for she is a truly victim of human trafficking, victim of our unfair law system, also international narcotic's mafia's crime? 

   I will not sorry that I no longer have that kind of admiration left just like I had over you last time. 


Sabtu, 18 April 2015

JEK

Well, I know. I know too well that I've already took so long time leaving this box. So many things left unsaid as well. But, I never run out of the things I want to spill. I just had a difficult situation on how I can get my solitude alone blissful time. I am sorry for the error grammar there. But, you know, That is the only way I can get my energy back. I need my alone time. I am a tacky conservative introvert bitch. Please, understand me. I am not sad, just want to be alone. 

I do sometimes having a hard time explaining to my good friends about this. They frequently consider myself mad or angry while I just want to be alone. When one of them reaches my point, the response still surprises me," Why are you like to be alone? it is sad, isn't it?". No, my good friend I am all fine, I am not sad or even mad. I just need to recharge myself by having alone time. 

Leave that one behind, then. I finally can have one right now. Just me and good books. That's it. Yeah, and wi-fi. 

Another part is, I kind of also have a disappointment. I had this over my own self. I hate it that I can't maintain (healthy) relationship towards somebody, (only with you, apparently). I can not and will not ever choose whose side I am going to be with. No. 

Why do I have to choose in the first place? 

Do I always have to choose to keep the relation?

I am not going to do choosing aside, never. But, that doesnt make me less care of you. I just do not want to involve on your cheesy love life drama. I dont want to be a part on what you and your insignificant other put. Shit, that's utterly stupid, if you may know. I disappointed that the point I tried to deliver, you threw away. You may also feel the same cause I shut the mouth up, knowing all this. 

The short is, if you need me, I still be here. I appreciate all the memories and sharing that made us closer. I am happy being friends with you. I like to discuss and talk with you. We cherished being a conservative introvert. But, I just dont want to involve on that stupid drama. 

Maybe you dont need those. It is alright, I can fully understand. 


May the happiness doesnt make you deaf and blind. I hope you OK wherever you are.




Senin, 08 Desember 2014

Mel Gibson and Christ

Christ and Mel Gibson. Faith and Violence. Those are things which market never punishes. So does with bad taste. I watched The Passion of The Christ and I can assure you that I can prove it. The Passion of The Christ is a perfect example of how director made something that can be called Faith Porn. 

What we know about pornography? Pornography often relates to something inappropriate. A term to  shows human body in a lustful way, creates an excitement optimally. In porn, details are more matter than totality (totality here relates to all physical activities). Just like porn, The Passion of The Christ breached all taboo things. 

Rouault in 1937 depicted Christ in his painting. There is an enigmatic, gloomy, charismatic, and mystery in that impasto technique and the thick lines. He brought the classic crucifixion painting tradition which signed with certain distance between the painter and Golgotha. When seeing his painting, we can embrace what Goethe ever said, "We draw a veil over the sufferings of Christ, simply because we revere them so deeply." But, Mel Gibson ripped that veil away in 2004. His Golgotha was full of close-ups under the sun, with bloody cut body, gawking wound and flesh that scattered from the endless trouncing. Like a hyperbole, The Passion of The Christ is a porn. Every hyperbole was considered to be relevant. Yeah, this movie showed what was the relevant thing, therefore (not love or affection) exasperation torture and the great pain of sufferings. 

Georges Rouault - Crucifixion (1937)


Jumat, 21 November 2014

One Is Not Born, But Rather Becomes, A Woman - Beauvoir

Being a feminist is not about trying to imitate men, hatred to men, burning bras or naked. Being feminist is about free to decide who you want to be, how to act and be responsible to your choice. It is not a shame to demand respect. 










Source: @grenta's journal

Kamis, 20 November 2014

Hard to Spell, Easy to Practice: Misogyny



Being a woman is suck, she said. At a second the wrinkle on the forehead shaped, presenting disagreement. But then, slowly the wrinkle gone, the eyes were pointing to a random object, still thinking. Ah, ya she is not that wrong. I can follow her saying about that. Like it or not, I must admit that being a woman in this patriarchal and misogynist country is utterly suck. The pain of having menstruate every month is not enough, women have also facing affliction, oppression, underestimation, silly cat-calling, and stereotyping, labeling from society.

Being a widow, by a divorce or death separated, is a major deal on this society. By having that status, you have to ready that people will stare at the back and make the opinion that you are about to lose the wealth or poor or difficult to suffice the daily needs for you and the children as well, because there is no spouse to do so for you. 

 I have secret for you, society, protect your own lover or husband to not fall for them, do not let them chat too long, help too often, or even laugh with them. 

By having status as a widow, every main thing will connect to economy and sexual theme. Economy theme will lead their thoughts that you are easy to lean on everyone that has lots of money. Also, It is not a problem being in affair with somebody's husband or being a second or third or so, as long as you can bath money. Well, if  money is not the main thing you count, it is alright to still have someone who holds or shares sexual desire with you. It is because you are so lonely, right? I am damn right. 

Fuck it, people.

Just fuck it. I can not process or even accept that way of thinking. Being widow for a woman is much harder. People use the word 'widow' to allow their logical fallacy of thinking to be true. With the word 'widow' for a women, people disgustingly related to anything lower; economy, morality, behavior. (I am sorry, I related this to my nearest experience). Cut that off!!!

Being a widow for a woman is a real struggle. If you, my good friend, want to know what they really pass on their life is, they actually spare their major time to work and pray. They try to stand up again after losing their life partner to continue the life. Life is keep walking and have to be continued even with the unlikeliest way. There is no time to think about so, to think about what most people have in mind about them and their activities. 

Clean up the mind, spare the time to think that stereotyping and labeling just make your head narrower. Do not see them by the status, but simply human. Respect them just like you want to be respected by others. 

The society is not yet mature enough, can not hope big on it though. But for you, my friends, I hope you do not swim your mind to those rushes. Please turn back, be mature and just respect everyone. For you who struggles on this patriarchy and misogyny world, my friends, even though we may not meet, cry, kiss or, even laugh together, I love you. With all my heart.