Kamis, 02 Februari 2017

"Kerja, Kerja, Kerja" Ala Ivan Denisovich di dalam Kamp Penjara

Karena alasan teknis, saya kembali jarang menulis di blog lagi. Padahal, ada banyak pengalaman membaca dari beberapa buku yang mau saya bagikan. Walaupun nggak membahas seluk beluk Pilkada Jakarta serta tetek bengeknya yang saat ini sedang hot dibahas di media arus utama, saya yakin apa yang saya tulis  masih ada relevansinya dengan kehidupan kita sehari-hari. 

Tahun 2016 bulan September lalu, saya baru membaca lagi Sehari dalam Kehidupan Ivan Denisovitch karya Aleksander Solzhenitsin. 

Aleksandr Solzhenitsin, 2016, watercolour on paper, by: Amalia Nur Fitri
Sejujurnya, agak malu karena saya baru memahami sepenuh hati makna dan isi cerita ini baru di pembacaan kedua. Mungkin karena kondisi sekarang berbeda, sehingga cara pikir Shukov alias Ivan Denisovitch begitu mudah diikuti oleh saya saat ini dibanding waktu kuliah dulu (maca cyih?).

Sehari dalam Kehidupan Ivan Denisovitch mengisahkan keseharian dan keadaan Ivan Denisovich alias Shukov di dalam kamp Gulag tahun 1950-an. Ia ditangkap setelah dituduh berkhianat dan membantu para tentara Jerman oleh NKVD (Народный комиссариат внутренних делNarodnyi Komissariat Vnutrennikh Del) atau semacam badan intelijen dalam negeri Uni Soviet. Karena lebih takut mati (atau tidak mengerti), Shukov mengikuti ancaman NKVD dengan menandatangani surat sebagai pengakuan penghianatannya.  Karena hal tersebut, ia harus menjalani hukuman 10 tahun di kamp Gulag. Pada novel ini dikisahkan, delapan tahun sudah ia menghabiskan hidupnya di dalam kamp. 

Di kamp penjara, Shukov bertemu tahanan lain. Mulai dari kapten angkatan laut Soviet, Baptis, anak petani kaya raya, hingga anak muda 16 tahun yang dijebloskan ke penjara hanya karena mencuri susu (untuk para pemberontak). Mereka semua menjalani hukuman di atas berpuluh tahun atas (tuduhan) kejahatan yang dilakukan. Jadi, apa saja yang dilalui para tahanan di dalam penjara pada masa Stalin? 

Sepanjang waktu, mereka semua bekerja, bekerja, dan bekerja di bawah suhu 0 derajat celcius, bahkan minus. Membangun tembok ini-itu, mengurus kolhoz, merapikan benteng, dengan cepat tanpa banyak omong. Yang senantiasa terbayang di benak adalah bagaimana tubuh tidak beku, pekerjaan selesai, makan, lalu istrahat, dan pastinya harus tetap hidup. Ditambah lagi, para opsir/sipir penjara yang tak henti memantau dan mengamati. Terkadang, tanpa alasan khusus opsir penjara melakukan kekerasan fisik serta mengancam. Kalau berani melawan, siap-siaplah diisolasi selama 10 hari. Walaupun terbebas dari pekerjaan 'rodi', selama masa isolasi, jatah makanan yang sudah sedikit semakin dikurangi. Ditambah lagi, tidak diperkenankan bertemu dengan siapapun di dalam sel isolasi, sehingga ketika sakit dan kelaparan tidak ada seorang pun yang tahu bahkan berani untuk peduli. Maka banyak tahanan isolasi berakhir mati. Siapapun yang melihat tahanan diseret ke ruang isolasi, otomatis berbisik mengucapkan perpisahan di dalam hati. 

Bagaimana jika terus patuh pada opsir dan terus bekerja dengan baik? Syukur jika dapat bertahan lebih lama atau mungkin bisa pula mati lelah. Pilihan yang ada memang hanya itu, hidup atau mati. Di novel ini, disiplin dan etos kerja dijunjung tinggi supaya bisa bertahan hidup di dalam kamp. Mungkin, sampai pada tahap dipaksa untuk disiplin dan bekerja keras agar tetap hidup.

Shukov sendiri merupakan warga biasa Uni Soviet, bukan berasal dari kalangan cendikia, kaya raya, atau tentara. Pun, bukan seorang yang religius.Dalam dialog dengan Aloyshka, seorang Baptis, Shukov berkata bahwa ia percaya keberadaan Tuhan namun menolak menyembah dan percaya konsep surga/neraka.

 "Jiwamu ingin berdoa kepada Tuhan. Nah, mengapa kau tidak menurutiNya?" 

"Aku akan katakan apa sebabnya, Alyoshka. Karena semua doa ini sama saja dengan pengaduan-pengaduan yang kita sampaikan kepada orang-orang atasan---tidak sampai atau kembali dengan catatan 'Ditolak'!" (hal164) dan,

"..yang harus kau ketahui adalah kau boleh berdoa semaumu, tetapi mereka tidak akan mengurangi hukumanmu sedikitpun dan kau harus menjalaninya tiap hari, dan tanda bangun dibunyikan sampai lampu-lampu mati." (hal. 167)

Shukov menguji rasionalitas beragama yang dijalankan Alyoshka. Namun, perbincangan tersebut juga menyibak hal yang ternyata belum berani diakuinya bahkan berusaha ditepisnya.

Dia sendiri tidak tahu lagi apakah masih ingin bebas atau tidak. Mula-mula dia ingin sekali hidup sekali tiap hari menghitung berapa lama lagi dia menjalani hukumannya. Lalu menjadi bosan. Dan lama kelamaan dia tahu, bahwa mungkin dia tidak diizinkan pulang ke rumah. Dan dia tidak tahu sebenarnya mana tempat yang paling baik baginya. Di rumah atau di sini. 

Apa yang dikatakan Alyoska benar. Dan suara atau matanya tidak dapat didengar atau dilihat,bahwa dia senang tinggal di penjara (hal. 170). Shukov pada akhirnya menghormati Alyoshka, ia mengapresiai caranya untuk membantu tahanan lain, padahal Alyoshka sebetulnya juga butuh bantuan.

Shukov sebagai tokoh protagonis mungkin bisa atau tidak mewakili sang pengarang, yakni Aleksandr Solzhenitsin. Solzhenitsin sendiri ditangkap karena dituduh menghina Stalin sehingga ia dijebloskan ke kamp penjara di daerah Karaganda, Kazakhstan Utara. Setelah delapan tahun berada di sana dan juga karena kematian Stalin, ia dibebaskan. Lalu menetap di daerah Rayzan dan menghabiskan waktu menjadi guru ilmu alam dan matematika di kesehariannya. Di masa pemerintahan Stalin, standar-standar realisme sosialis dalam sebuah karya sudah ditetapkan seperti sebuah template. Yakni sosok pahlawan yang rela berkorban untuk negara. Menurut saya, tak heran jika Solzhenitsin akhirnya diciduk karena dianggap menghina Stalin. Dalam novel ini, misalnya, sosok Shukov sebagai seorang petani yang tak bisa baca tulis, mengkritik Stalin. Sangat jauh dari apa yang digadang-gadangkan oleh pembesar Partai Komunis tentang sosok 'hero' yang ideal.

Novel ini menghadirkan emosi yang agak lambat. Namun, setelahnya akan sangat asyik membacanya. Penggambaran tentang persaudaraan sesama tahanan, perjuangan hidup dengan makan roti yang membeku, kantung baju yang bolong, usaha menyembunyikan stok makanan, hingga keberadaan tokoh-tokoh lain saling memberi nafas tersendiri.

Mungkin pada waktu tertentu, manusia perlu ditampar oleh absurditas kejahatan dan penderitaan, hingga tahap berlebihan (dan tidak perlu), hanya untuk menjadi diri yang paling produktif. Apakah proses itu dapat membuat kita bisa mengapresiasi kebaikan setelah bertahan dalam penderitaan? Dapat mensyukuri keindahan setelah menyaksikan kedegilan? atau dapat menikmati kebahagiaan setelah melewati keputusasaan? Itu semua adalah perkara yang berbeda lagi.

Ini adalah barisan kalimat favorit saya dalam novel, yang juga jadi penutup cerita: 

"Shukov tidur dan dia betul-betul merasa senang. Hari ini dia sangat beruntung. Dia tidak dimasukan ke dalam sel, regunya tidak digiring ke luar untuk bekerja di Pembangunan Masyarakat Sosialis.

Dia berhasil mendapat semangkok bubur tambahan siang hari. Kepala regu mendapat penilaian yang baik untuk pekerjaannya. Dia merasa senang membangun tembok itu. Merekatidak menemukan potongan besi baja itu waktu pemeriksaan. Caesar telah memberi upah malam itu. Dai telah membeli tembakau. Dan dia sudah sembuh. Tidak ada yang merusak hari itu, hampir merupakan hari bahagia. 

Ada tiga ribu enam ratus lima puluh tiga hari seperti ini dalam hukumannya,mulai tanda bangun dibunyikan sampai lampu-lampu mati...." (hal. 170)

Novel ditutup dengan perasaan sia-sia nan sepi lewat penantian hari esok dan rasa syukur Shukov atas hari tersebut di dalam kamp penjara.

Nah, bagaimana dengan ambisi produktif dan jargon "kerja, kerja. kerja" Anda sekalian? 

Gambar diunduh dari www.bukalapak.com


Jumat, 30 September 2016

Jadi Bahagia & Legowo Berawal dari Rak Buku

Saya punya koleksi buku yang nggak banyak, tapi dibilang sedikit juga tidak bisa. Semuanya koleksi saya sejak saya bisa membaca di umur lima atau enam tahun. Awalnya ada ensiklopedi hewan dan tumbuhan, manga, cerita nabi-nabi, buku RPUL maupun kumpulan bendera, bahkan sampai serial Petruk dan Gareng karya Tatang S.
Setidaknya, sampai setahun yang lalu, saya masih sangat protektif terhadap buku-buku. Mengelap, membersihkan dari debu, hingga menyusun dengan rapi di rak. Kemudian, gadget dan e-book datang. Kemampuan membaca menurun drastis semenjak mengenal benda bernama smartphone dan sosial media. Konten alternatif di internet juga membuat susah konsisten membaca teks di atas 35 halaman.
Saya panik, merasa satu-satunya kemampuan hilang. Kalau saya cantik bagai aurora borealis di langit Kutub Utara pada bulan September dan bisa bernyanyi seperti Isyana, persetan dengan Notes from the Underground, Les Mots, bahkan Das Kapital I. Lebih baik melakoni hidup dalam simulakra budaya pop dan dicintai manusia-manusia lain. 

Untuk menjaga supaya proses belajar tetap berlangsung, saya akhirnya mengoleksi e-book dan memaksakan diri membaca dari platform tersebut. Hingga puncaknya, saya memutuskan untuk menjual beberapa buku dari rak.

Sama sekali tidak mudah memang, apalagi buku-buku tersebut sudah lebih dari satu dekade menemani saya. Sudah ada emotional attachment yang terjalin dengan koleksi buku-buku tersebut. Namun, selain masalah finansial, buku-buku saya berhak mendapatkan perhatian lebih dari orang lain. Juga, Mengoleksi buku-buku membuat hidup rumit. Jika suatu hari saya pindah ke tempat yang sangat jauh, saya tidak mungkin membawa  semua buku-buku tersebut.

Terakhir, kecanduan membaca dan membeli buku ini tidak sehat dan merugikan saya secara finansial serta menghasilkan social detachment dengan orang di sekitar karena layaknya pembaca lain, membaca membutuhkan momen soliter. Kemudian saya tersadar, apakah saya membaca karena literasi itu keren atau 'beradab'? Sekedar mesin hasrat Deleuzian semata untuk orgasme intelektual dan modal sosial? atau seperti yang berkali-kali didengungkan Umberto Eco dalam anti-library, yaitu kesadaran terhadap apa yang tidak pernah kita ketahui justru dari tindakan menggali informasi dari buku? Maka dari itu, proses kelegowoan untuk meninggalkan buku harus dimulai dari sekarang.
Saya hanya ingin eling terhadap ilmu pengetahuan. Buku hanya fisikalitasnya, yang fisiknya sangat indah, tidak ada yang mengalahkan (bahkan dada bidang dan rahang Sean O'pry). Yang saya ingin cintai lebih jauh adalah ilmu dan dinamikanya. Bukan cuma sekedar buku. Oleh karena itu, ada wujudnya atau tidak mestinya tidak jadi masalah, bukan?

Terbukti, dengan merelakan beberapa buku untuk dijual, selain kondisi finansial yang jadi membaik, saya juga menjadi lebih bahagia karena membuat pencinta buku lain menemukan buku favoritnya dengan mudah dan harga yang murah. Di masa depan pun, jika hendak pindah ke tempat yang jauh, koleksi-koleksi buku ini tidak lagi membuat saya bingung. Ternyata, merelakan benda yang sudah sangat dekat dengan diri jatuh kepada pemilik baru, tidak selamanya berarti buruk. Sebaliknya, ada rasa 'kemenangan' ketika akhirnya saya bisa menundukan dan meredam kebiasaan impulsif membeli dan mengoleksi buku, sehingga diri menjadi jauh lebih tenang dan bahagia. 

Ilustrasi diunduh dari www.thenewyorker.com karya Sarah Mazzeti



Kamis, 08 September 2016

Yukiguni (Daerah Salju) oleh Yasunari Kawabata

Daerah Salju ini diterjemahkan langsung dari bahasa Jepang yakni Yukiguni karya Yasunari Kawabata.

diunduh dari www.bukalapak.com

Berbeda ketika membaca karya Akutagawa berjudul Kappa (yang saya rasakan diam-diam bergejolak lincah), dalam Yukiguni alur terasa sangat lambat, sangat detail, dan intim. Membaca Yukiguni tidak jauh berbeda dengan menikmati lukisan. Mungkin di sini berkorelasi dengan kecintaan Kawabata dengan lukisan serta cita-citanya yang ingin jadi pelukis. Emosi diimpresikan melalui penggambaran alam, serta isinya yang bergerak.

Mulai dari kedatangan Shimamura dengan kereta, hingga menyaksikan Yoko sekarat di hadapannya (spoiler alert!), digambarkan lewat langit dan gunung yang sunyi. Saya suka dengan gaya penulisan Kawabata. Seringnya ia menggunakan keadaan alam untuk menggambarkan kondisi jiwa para tokoh-tokohnya, membuat segala hal terasa baik-baik saja dan terasa tenang. Padahal, di dalam jiwa Shimamura, Yoko, dan Komako, memiliki merapi yang siap meletus. Keadaan yang sangat jauh dari kata tenang sebetulnya. Usai membaca Yukiguni seperti berpisah dengan teman yang sudah kita betul kebiasannya.

Secara garis besar, Daerah Salju adalah kisah cinta antara Komako dan Shimamura. Shimamura adalah pemuda kaya asal Tokyo yang sedang berlibur ke daerah salju (daerahnya antara Perbatasan Gunma, kota Yuzawa). Dalam perjalanan menggunakan kereta, ia bertemu dengan Yoko yang kala itu sedang bersama pacarnya yang sakit parah, dan juga Komako yang cantik. Yoko dan Komako adalah geisha di daerah tersebut.

Shimamura jatuh cinta pada Komako, sehingga ia sering datang dari Tokyo meninggalkan anak dan istrinya. Komako sendiri adalah geisha mudah berumur 19 tahun yang ceriwis. Berbicara dengan Komako seperti membaca buku tentang tarian dari Eropa Barat yang asing tapi indah. Jika tidak bertemu dengan Komako, Shimamura tidak akan tahu kalau ada tarian bernama waltz atau musik mazurka. Kurang lebih seperti itu (sotoy).

diunduh dari www.goodreads.com


Ada satu line  yang saya suka dari cerita ini, bunyinya seperti di bawah ini:

"Ketika mengadah Bima Sakti itu terasa mau turun lagi hendak memeluk bumi yang besar ini. Terasa bahwa Bima Sakti yang seperti aurora besar mengalir dengan merendamkan tubuh Shimamura di dalamnya dan tegak di tepi bumi. Ada kesunyisenyapan yang dingin tetapi juga menakjubkan dengan suasana mengairahkan."- Daerah Salju hal. 137

Line ini ada ketika rumah Yoko terbakar. Shimamura bersama Komako datang berusaha menyelamatkan, namun mereka berdua dilanda kepanikan teramat sangat hingga tidak dapat berpikir jernih, yang ada hanya ketakutan. Di antara ketakutan yang melanda, Shimamura ternyata lebih takut jika ditinggalkan atau meninggalkan Komako. Bima Sakti itu adalah keberadaan Komako.

Karena kesan yang ditinggalkan sangat kuat, saya sampai memasukan 'yukiguni', 'snow country', 'kawabata' di mesin pencari Google. Akhirnya menemukan musik di Youtube yang terinspirasi dari Yukiguni oleh Malcolm Fisher dan Clara Galante di bawah ini.





Diam mematikan, sepi menghanyutkan, lalu meledak-ledak hilang. Pantas saja Yasunari Kawabata diganjar penghargaan Nobel di bidang literatur atas karyanya satu ini.



Selasa, 06 September 2016

Ryonosuke Akutagawa dan Dunia Kappa

Menjaga supaya nggak bertambah bosan, di tengah keseharian yang sudah membosankan, saya beralih membaca lagi literatur klasik. 

Untuk mendapatkan buku-buku tersebut sekarang sudah nggak lagi susah, atau harus ke penjual buku di daerah Senen atau pesan dulu di Barel UI. Di Gramedia, koleksi buku sastra dunia ternyata lumayan cihuy. 

Dari situ, saya pilih cerita dari Ryonosuke Akutagawa dengan judul Kappa. Pilihan ini jatuh jelas karena halamannya paling tipis (aku pemalas profesional) dan profil singkat penulis yang tertera di punggung buku buat saya penasaran. Dia seperti tipe penulis bertipe nihilis yang menggemari satir, I could already felt his bitterness towards the world (sotoy). Menebak kalau Akutagawa punya arus negatif yang deras dan sok tahu mati-matian, saya pilih Kappa. 

Ternyata, hanya cukup waktu 1 jam saja untuk menghabiskan Kappa. Entah karena bukunya sangat tipis (kurang dari 100 halaman saja!) atau memang ceritanya sangat seru sehingga saya tidak berhenti sebentar pun, atau memang bisa jadi karena keduanya. Terlepas dari itu, berkenalan dengan Akutagawa lewat karyanya yang satu ini sangat asyik.

Secara garis besar, Kappa berkisah tentang pasien Rumah Sakit Jiwa yang mengaku bertemu dan tinggal di negeri para Kappa. Pernah tahu atau dengar tentang Kappa sebelumnya? Kalau mencari gambarnya di Google, Kappa kira-kira berwujud seperti ini: 

Gambar diunduh dari www.scaryforkids.com
Dalam mitos tradisional Jepang, Kappa adalah siluman yang tinggal di daerah sungai. Bentuknya kurang lebih ya seperti di gambar di atas. Mereka tngginya seperti anak umur 10 tahun, tubuhnya dilapisi lendir, kepalanya berbentuk cekung mangkok, dan berparuh. Jadi, si tokoh Aku terjebak di negeri Kappa selama beberapa lama. Dan dalam kurun waktu tersebut, ia berkenalan dan hidup bersama Kappa-Kappa. Hingga si tokoh utama belajar bahasa Kappa sampai fasih (yang menurut saya mendekati bahasa Perancis).  

Di negeri Kappa, teknologi sudah jauh lebih efisien dan maju. Pembangunan dan Sumber Daya Alam membuat mereka berkecukupan untuk sebuah bangsa. Mereka sama saja seperti manusia. Ada yang berprofesi sebagai pengusaha, penyair, mahasiswa, dan lain-lain. Agama yang dianut pun, ada yang menganut Kristen, Islam, Hindu, Budha, dan Shinto. Yang berbeda, Kappa mengenal agama Modernisme atau pemujaan hidup. Menarik sekali ketika si tokoh utama dibawa berkeliling ke tempat peribadatannya, yang merupakan gedung mewah dan megah di kota Kappa. Pemuja hidup ini menyembah pohon yang diletakan di altar. 

Tidak hanya itu, agama Modernisme ini memiliki nabi-nabinya sendiri yang lucunya bukan berasal kaum Kappa, melainkan kaum manusia. Sang tokoh utama, mengenalinya sebagai Tolstoy, Nietzsche, Doppo Kunikida, Wagner, dan Strindberg. 

Cerita berakhir ketika sang tokoh utama ingin kabur dari dunia Kappa tersebut, dengan bantuan Kappa bernama Bag yang berprofesi sebagai nelayan. Kappa bernama Bag, dikenal sebagai Kappa yang sudah 'merdeka' dalam hidup karena lepas dari semua keinginan bersifat keduniaan dan hidup secukupnya dengan tenang dan damai.

Setelah kembali ke dunia manusia, si tokoh utama juga mengalami penyesuaian kembali. Menurutnya, hidup di dunia Kappa jauh lebih mudah, manusia lebih jahat. Ia menjadi takut dan sangat membenci manusia. Si tokoh utama bercerita, setia malam Kappa-Kappa tersebut setia menemui dan menemainya sepanjang malam di rumah sakit. Ia juga bercerita dibawakan bunga dan berbagai kado oleh Kappa. Nah, oleh si dokter jiwa hal tersebut dicatat sebagai delusi si tokoh utama, karena ia tidak menemukan dan melihat apapun yang diceritakan oleh si tokoh utama (Di bagian akhir ini saya teringat juga ending dari salah satu cerita pendek Haruki Muakami berjudul Super Frog Saves Tokyo).

Menganalisis dari berbagai sudut pandang, mudah saja dilakukan pada cerita pendek Kappa ini. Mulai dari kritik sosial bahkan mungkin penggambaran diri sang penulis sendiri. Atau mungkin juga merupakan penggambaran cita-cita masyarakat nihilis ideal versinya. Menyingkirkan analisis yang berteori-teori yang rumit (saya pemalas profesional (2)), saya sangat menikmati Kappa. Ini adalah buku yang buat saya terbahak untuk pertama kali, setelah sekian lama (kurang hiburan).

Sangat seru melihat bagaimana simulakra ala Akutagawa berlangsung di dunia Kappa. Mulai dari menyaksikan bahasa mereka, budaya, hukum, undang-undang yang berlaku, hingga sistem moral yang ada. Dia sengaja membuat kita menjauhkan dan langung membedakan diri dengan para Kappa. Tapi semakin lama, sebetulnya Kappa adalah manusia itu sendiri.

Gambar diunduh dari www.bukalapak.com

Buku ini bisa jadi bahan dongeng untuk anak-anak SD, begitu pikir saya.


Sabtu, 04 Juni 2016

Stigma Depresi dan Kepergian Vinsentius Billy

Sebelum mulai, kita bisa baca dulu artikel dari Tempo di sini

Masih basah di ingatan kita tentang berita kematian Vinsentius Billy. Ia ditemukan gantung diri di dalam kamar kosannya di daerah Beji, Depok. Saya pribadi tahu daerah itu karena sering melewati. Teman baik saya pernah tinggal di kosan tersebut di masa awal perkuliahan tahun 2011, jadi saya cukup familiar dengan lingkungannya.

Media-media online, televisi, dan radio langsung menyebar berita tersebut. Beberapa orang di kantor dan rumah berbalik kepada saya dan bertanya kenapa di UI banyak yang bunuh diri? berat banget kuliahnya, ya? dan lain-lain. Membaca pemberitaan, sebagian besar bercerita tentang kronologi kejadian dan pembelaan pihak kampus atas stigma yang terlanjur tertancap. 

Yang dilewatkan oleh sebagian besar orang ketika membicarakan ini adalah empati, sensitivitas, dan rasa pengertian terhadap seseorang yang mengalami gangguan mental. Ya, Billy dan berjuta-juta orang lainnya punya tali yang sama, yang bisa digunakan kapan saja. Gangguan mental memang punya tantangan sendiri untuk bisa dimengerti karena 'invisible' atau tidak terlihat. Stereotip yang paling sering diterima oleh penderitanya adalah, "Ya, itu semua cuma ada di pikiran lo doang. Cheer up!", "Ngapain sedih terus? Udahan dong.", "Oh, tapi lo nggak kelihatan sedih sama sekali? Kenapa sih?"

Kurangnya sensitivitas kita terhadap orang yang menderita yang menderita gangguan mental turut menaikan angka bunuh diri. Apakah kita sudah adil terhadap Billy dan teman-teman yang menderita gangguan mental lainnya? Apakah kita sudah perlakukan kalau apa yang mereka alami nyata dan juga butuh pengobatan seperti penyakit fisikal kronis lain? Atau justru kita turut memperburuk dengan memberi komentar, "Anak cowok masak galau? yang gentle napa!" 

Depresi adalah salah satu jenis dari gangguan mental. Menurut National Alliance on Mental Illnes (NAMI), jenis-jenis gangguan mental selain depresi adalah:
-OCD (Obsessive Compulsive Disorder)
-panik berlebih (anxiety disorder)
-schizophrenia
-gangguan makan akut (eating disorder),
-ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)
-Autis
-Bipolar
-BPD (Borderline Personality Disorder)
-PTSD (Post-Traumatic Stress Disorder)
-Dissociative Disorder

Penyakit mental/gangguan mental adalah kondisi yang menimpa mood, pikiran, dan perasaan seseorang, dan mempengaruhi kemampuannya untuk berhubungan dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Setiap penderita bisa saja mengalami diagnosa yang sama, tetapi pengalamannya bisa sama sekali berbeda.

Penyakit mental sama halnya dengan sakit jantung dan sakit paru-paru, harus ditangani serius melalui konsultasi, medis dan/atau pengobatan. Namun, itu tidak jadi hal yang saklek dilakukan juga. Ada beberapa teman yang saya kenal, mengontrol dengan cara yang alami (bisa melalui distraksi hobi, kesukaan, meditasi, dan lain-lain), melalui medis (mengonsumsi obat-obatan anti-depresan), mengkombinasikan keduanya, dan perawatan rumah sakit (hospitalized). Itu kembali pada kecocokan tubuh dan kenyamanan penderita. 

Apa yang membuat seseorang depresi? Banyak. Kejadian traumatis karena perpisahan (meninggalnya orang yang sangat dicintai, perceraian, putus cinta), tekanan dari orang-orang terdekat dan/masyarakat (dari pekerjaan atau rumah tangga), menerima perlakuan abusive, perang, dan korban bencana alam, dan lain-lain yang mengarah kepada pengalaman traumatis. Nah, itu semua sifatnya eksternal. Depresi bisa juga terjadi karena hal internal, seperti diturunkan secara genetis  (ya, mungkin orangtua atau leluhurmu dulu punya gangguan mental juga) dan kamu punya kadar hormon kimiawi dalam otak yang tidak seimbang serta struktur otak yang 'berbeda'. Ya, depresi tidak hanya bisa terjadi karena pengalaman eksternal, tapi juga internal. 

Depresi juga bukan tentang penampilan. "Dia kelihatan baik-baik saja, pendiam tapi baik-baik saja.", "Lo depresi? Tapi nggak kelihatan sama sekali, sih.", "Ohya, dia depresi kelihatan sedih terus nggak pernah happy."  Siapa yang bisa menjamin keadaan seseorang baik-baik saja hanya karena dia tertawa setiap hari? Ya, kamu tahu dia selalu murung, lalu menganggapnya orang yang bosan, anti-sosial, aneh? Apakah kamu pernah benar-benar memahaminya, berbicara dari hati ke hati? Depresi tidak terlihat, beberapa orang bahkan berusaha keras untuk menutupinya, namun yang sering terjadi orang-orang tidak mau melihatnya. Sekali lagi, hanya butuh sensitivitas dan empati untuk menyadari seseorang menderita depresi. 

Apa yang menimpa Billy bisa menimpa siapapun juga. Billy tidak mati karena bunuh diri, tetapi karena depresi. Depresi adalah penyakit yang nyata, sama kronisnya seperti infeksi paru-paru atau serangan jantung. Kita harus berhenti memberi stigma bahwa penyakit mental tidaklah nyata karena tidak terlihat. Kita harus berhenti berasumsi bahwa depresi terjadi karena kurangnya kedekatan dengan Tuhan, karena bosan, dan hanya bisa terjadi hanya karena tekanan hidup yang berat. Depresi bisa datang begitu saja, dan cara kita memahaminya adalah mendengarkan, mendukung, dan menemani. 

Seperti halnya penyakit fisikal kronis lain, depresi tidak bisa dilalui seorang diri. Jika kita mau membuang stereotip dan stigma dangkal mengenai gangguan mental, mereka akan lebih terbuka bercerita. Kita pun bisa membantu menyelamatkan jiwa lebih banyak lagi, dibandingkan sibuk menyalahkan A, B, atau C. 

"Consumed by the Blue", Amalia Nur Fitri, 2015, watercolour on paper





Kamis, 21 April 2016

Kartini Bukan Sekedar Sanggul dan Kebaya

Berkebaya, bersanggul, melakukan pawai sambil pakai kostum adat daerah atau profesi tertentu, sounds familiar, eh? 

Sudah berpuluh tahun Hari Kartini dirayakan dengan simbol-simbol demikian. Kenapa, ya harus dengan cara demikian? Membaca karya Pramoedya Ananta Toer, berjudul Panggil Aku Kartini Saja, sebenarnya makin menjelaskan kalau Kartini hidup dalam paradoks. Bahkan bertolak belakang dengan apa yang ia yakini.

Kartini adalah bangsawan yang hidup dengan tata cara hidup ala keraton yang menjunjung hierarki. Bagi seseorang yang mendambakan kesetaraan dan keadilan gender, tentu bukan hal mudah hidup dalam lingkungan demikian. Ia sudah 'dipersiapkan' sejak umur 12 tahun untuk menikah, sehingga tidak lagi sekolah. Kebahagiaan intelektualnya dimutilasi saat itu juga. Pada umur 24 tahun ia menikah (dimana menurut tradisi Jawa, ia sudah sangat telat menikah), dengan bupati beristri tiga yang umurnya berlipat-lipat jauhnya dibanding Kartini.

Menulis menjadi senjatanya untuk melawan. Kegiatannya berkoresponden dengan seorang Belanda, menyebabkan dirinya mulai dikenal. Karena tulisannya di surat-surat dipublikasikan sehingga membuat 'heboh' dunia internasional waktu itu. Kenapa heboh? karena ia orang keraton yang mengkritik norma-norma sosial Jawa yang membatasi ekspresi perempuan. Contohnya mengatur bagaimana cara perempuan berjalan. Hubungannya dengan Belanda mempermudah ia mendirikan sekolah untuk gadis-gadis di daerahnya, dimana hal itu tidak disetujui oleh suaminya.

Kartini dinikahkan saat sistem reproduksinya belum matang dan siap, sehingga meninggal ketika melahirkan anak satu-satunya. Menjadi bangsawan Jawa, ternyata lebih susah ketimbang menjadi rakyat jelata Jawa dalam hal kebebebasan diri. Dengan luasnya wawasan dan pengetahuannya, ia masih harus dikerdilkan oleh adat dan budaya Jawa, dan ia tidak bisa apa-apa dengan posisinya itu. Mungkin lebih tepatnya, karena ia perempuan jawa, sekalipun ia seorang ningrat. 

Pemikiran revousioner dan emansipasi yang diperjuangkan Kartini seharusnya kita lanjutkan. Tidak hanya tereduksi dari baju kebaya atau sanggul yang dipakai. Alangkah baiknya jika Hari Kartini diperingati dengan cara yang lebih konkrit, menciptakan dunia yang lebih baik lagi untuk perempuan dan juga laki-laki, persis seperti mimpi Kartini.

Gambar diunduh dari www.deborahdewi.com


Selasa, 08 Maret 2016

Harapan di Hari Perempuan Internasional 2016







Saya sejujurnya baru menyadari, bahwa tanggal 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional. Hari ini, dibandingkan dengan tanggal 21 April atau 22 Desember yang diperingati sebagai Hari Kartini atau Hari Ibu di Indonesia, tidak begitu familiar oleh kebanyakan orang. Tapi sebagai perempuan, saya boleh berharap mengenai  beberapa hal dari masyarakat. 

Sebagai seorang perempuan, sangat wajar bila saya berharap keadilan gender dan praktik-praktik non-misoginis bisa lengser segera selamanya di Indonesia. Sangat wajar saya berharap jika siapapun bisa benar-benar berbuat baik dan beramah tamah, karena memang senang berteman dengan manusia, bukan karena dia punya dada yang besar, pinggul yang ranum, rambut yang indah, atau mata yang menarik. 

Saya berharap, perempuan di Indonesia tidak lagi terbuai oleh mimpi-mimpi pernikahan. Menganggap pernikahan sebagai satu-satunya batu loncatan, pencapaian dalam hidup, atau sebagai sumber kebahagiaan satu-satunya. Tidak ada yang salah dengan pernikahan, tetapi menganggap itu sebagai tujuan bahkan prestasi, adalah pandangan yang menyesatkan. Saya berharap, daripada terbuai oleh pernikahan, perempuan lebih memikirkan tentang bagaimana caranya ia membebaskan diri dan masyarakat kecil dari ketidakadilan dan penindasan, menuai ilmu dan pendidikan, bereksperimen dalam penemuan, atau belajar menstabilkan emosi dan psikologinya. 

Saya berharap, tidak ada lagi tulisan pop atau post-post viral media sosial yang mendaku islami, mengatur bagaimana perempuan seharusnya berpakaian, berjalan, bertingkah, bahkan berpikir. Alih-alih islami, justru dari situ pemeliharaan praktik patriarki nan misoginis dipelihara, disebarluaskan, bahkan dipatri dalam memori perempuan sebagai yang 'ideal'. Saya berharap masyarakat tidak lagi mengatur mana yang wajib dan haram (begitu pula, standar baik dan buruk) dilakukan oleh perempuan, lalu membalutnya dengan kain-kain dan atribut keagamaan. Sehingga, ia yang tidak terpapar pengetahuan, menganggap bahwa perempuan memang lahir dengan segala kain-kain atribut itu, dan menganggap semua memang wajar adanya. Yang sebetulnya pantas mengatur dirinya, adalah dia sendiri. Dia utuh, perempuan utuh dengan segala otoritas dan kedaulatan tubuhnya. Beragama tidak memaksa seseorang untuk menutup atau membuka tubuh, namun misoginis, ya. 

Saya berharap tidak akan ada lagi balasan, "Biasa aja kali", "nyantai aja, sih", dan ,"yaelah, lebay amat." dari laki-laki atau perempuan, oleh seseorang yang menyatakan ketidaksukaannya karena telah merasa dilecehkan. Memanggil dengan sebutan, sayang, cantik, bahenol, semok, montok, dengan salam, bersiul, dan memandang, tanpa consent (persetujuan), adalah bentuk pelecehan. Bukanlah sesuatu yang berlebihan jika seseorang, menyebut itu penghinaan dan pelecehan, justru ia sadar akan keberadannya. Sebutan-sebutan bukanlah pujian, itu adalah bentuk seseorang yang tidak bisa menghargai manusia lain, menganggap yang lainnya hanya objek. Kamu tidak patut merasa spesial jika mendapat siulan di pinggir jalan. Sebaliknya, kamu harus minta mereka berhenti berlaku demikian. 

Saya berharap, perempuan Indonesia bebas dari segala romantisasi, bebas dari segala perilaku ingin dispesialkan dan dilayani karena merasa lemah tak berdaya, menyadari adanya patriarki, memahami dirinya ditindas, lalu berani melawan dan membela dirinya. Tidak hanya sibuk untuk menjadi terkenal, menjadi pemimpin trend, menjadi keren, atau menjadi faboulus, tetapi juga mempunyai kesadaran kritis. Berani mengembalikan lagi narasi tubuhnya di ruang publik, termasuk di internet. Tidak ikut menjadi agen patriarki, karena kamu pun sebenarnya adalah korban juga, yang paling parah pula. Jadilah cerdas memahami keadaan sosial dan politik masyarakat dan diri sendiri, jadi diri tidak hanya terampil memilih filter instagram atau memilih warna lipstik. 



Sekedar berharap tentu boleh saja, bukan?  Selamat Hari Perempuan Internasional.